Ilustrasi makanan sehat. Foto: Brooke Lark (Unsplash)

Budaya diet di Korea Selatan memperlihatkan dua paham yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, warga Korea mengikuti pola makan tradisional yang berfokus pada sayuran, biji-bijian, dan bahan makanan fermentasi. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga yang mengikuti praktik diet ketat. Hal ini turut berdampak pada industri produk rendah kalori yang kini tumbuh cepat, disertai dengan munculnya tekanan sosial terkait penampilan. Lanskap ini memengaruhi perilaku makan, kebijakan kesehatan, dan arah pasar, serta menempatkan Korea sebagai salah satu acuan regional dalam tren diet dan kesehatan secara umum.

Keberadaan tradisi kuliner dan industrialisasi penampilan di satu tempat yang sama menghasilkan sebuah paradoks. Angka obesitas nasional relatif rendah, namun risiko sindrom metabolik dan penyakit tidak menular meningkat seiring dengan berubahnya pola konsumsi. Sedangkan di tingkat global, ekspor budaya pop dan K‑beauty membuat narasi diet Korea menyebar luas, membentuk persepsi dan praktik di luar negeri.

Penampilan memegang peranan penting dalam jejaring sosial dan peluang kerja. Komentar mengenai kebiasaan makan, bentuk tubuh, dan kebiasaan menikmati camilan sering kali muncul di kantor maupun lingkar pertemanan. Dalam kondisi tersebut, manajemen berat badan dianggap sebagai prasyarat mobilitas sosial. Sebagian orang memandang penurunan berat sebagai langkah pertama, diikuti dengan perawatan kulit dan rambut, sehingga diet menjadi strategi investasi sosial, bukan semata keputusan kesehatan.

Ilustrasi menimbang berat badan. Foto: i yunmai (Unsplash)

Fenomena lookism menguat ketika tampilan fisik memiliki bobot serupa atau bahkan lebih besar dibandingkan dengan kualifikasi pribadi. Dampaknya terlihat jelas pada persepsi tubuh, terutama pada wanita. Survei menunjukkan jumlah responden wanita yang menilai dirinya lebih berat dari ukuran sebenarnya naik dari sekitar 10 persen pada awal tahun 2000‑an menjadi 20 persen pada 2018. Pada saat yang sama, prevalensi obesitas nasional berada di kisaran 5,9 persen, termasuk rendah dalam kelompok negara maju. Ketidaksesuaian antara indikator objektif dan persepsi diri menciptakan siklus diet restriktif yang tidak selalu dibutuhkan.

Normalisasi komentar penampilan juga terjadi dalam relasi pertemanan. Umpan balik tentang gigi, bentuk tubuh, atau kebiasaan olahraga disampaikan sebagai bentuk perhatian, meskipun sang penerima tidak memintanya. Praktik ini menempatkan pilihan makan dalam sorotan sosial berkelanjutan. Pada kelompok remaja, tekanan tersebut meningkat bersamaan dengan tingginya tuntutan akademik. Lingkungan sekolah menjadi ruang di mana standar tampilan dan performa belajar bertemu, mendorong strategi pembatasan makan yang ketat pada sebagian siswa.

Baca Juga: Lookism di Korea

Perkembangan teknologi turut mendorong peningkatan layanan aplikasi diet dan nutrisi. Pada tahun 2024, pendapatan dari segmen aplikasi diet di Korea diperkirakan mencapai sekitar 26 juta dolar dan diproyeksikan akan meningkat hingga 59 juta dolar pada 2030 dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 14,6 persen. Platform iOS mendominasi pendapatan, sementara platform Android menunjukkan adanya percepatan pertumbuhan selama periode proyeksi.

Di sisi yang lebih luas, pasar produk diet diperkirakan bernilai sekitar 5,5 miliar dolar pada 2024 dan berpotensi naik menjadi 11,3 miliar dolar pada 2035 dengan CAGR sekitar 6,76 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh beragam sektor, mulai dari suplemen, program diet klinis, hingga prosedur bedah, dengan e‑commerce memperluas jangkauan produk tersebut ke panggung internasional. Di dalam ekosistem yang sama, jasa personalisasi gizi muncul sebagai segmen baru dan diproyeksikan akan mencapai nilai 3,4 miliar dolar pada 2027.

Ilustrasi bedah plastik. Foto: philippe spitalier (Unsplash)

Industri bedah kosmetik berkaitan erat dengan budaya diet. Nilai pasar dari sektor ini pada tahun 2024 diperkirakan berada pada angka 2,47 miliar dolar dan berpotensi meningkat menjadi 12,14 miliar dolar pada 2034 dengan pertumbuhan sekitar 17,23 persen per tahun.

Rasio prosedur medis kosmetik per 1.000 orang penduduk menjadikan Korea berada di posisi tertinggi secara global, dengan estimasi satu dari tiga wanita usia 19 hingga 29 tahun pernah menjalani prosedur. Pasien asing turut menyumbang porsi yang besar, berkisar antara 40 hingga 50 persen, seiring dengan meningkatnya pariwisata medis yang dipengaruhi arus K‑beauty dan K‑pop.

Perusahaan pangan Korea tengah mengembangkan pemanis generasi baru dengan teknik fermentasi yang presisi. Mikroorganisme yang direkayasa menghasilkan gula dengan kalori rendah atau nol kalori dalam skala komersial. Fokus utama riset saat ini adalah stabilitas panas agar intensitas rasa manis dapat bertahan pada proses memasak yang umum di dapur Asia.

Eksplorasi bahan lokal juga terus berlangsung. Riset saat ini berfokus pada pemanis nabati terfermentasi dari produk pertanian domestik yang dipadukan dengan teknik ekstraksi modern. Diharapkan, pemanis dengan profil rasa yang lebih netral dan cocok dengan resep lokal dapat tercapai, sekaligus membuka jalan bagi campuran pemanis yang dapat disesuaikan dengan preferensi dan kebutuhan diet individu.

Paparan kisah diet ekstrem dari artis maupun figur industri hiburan lainnya sering kali menciptakan sorotan. Beberapa orang memberikan testimoni tentang penurunan berat dalam waktu singkat, asupan harian yang sangat rendah kalori, ataupun periode puasa panjang yang dipadukan dengan latihan intens.

Sebagian pelaku industri hiburan pun turut melaporkan efek yang menyertainya, seperti gangguan menstruasi, kerontokan rambut, pingsan berulang, ataupun berat badan yang kembali naik setelah program berakhir. Namun, narasi tersebut beredar luas di media dan tetap ditiru oleh penggemar, terutama remaja, yang memandang tokoh publik sebagai rujukan.

Ilustrasi diet. Foto: Total Shape (Unsplash)

Kajian tentang paparan gelombang budaya Korea menunjukkan adanya kaitan dengan risiko gangguan makan pada remaja perempuan. Indikator paparan terhadap arus K‑pop dan media lainnya yang terkait berkorelasi dengan meningkatnya citra tubuh negatif serta dorongan untuk membatasi makan. Di luar itu, pencantuman total kalori pada menu restoran menjadi instrumen transparansi gizi, tetapi pada sebagian konsumen hal tersebut justru memperkuat fokus pada angka dan menambah tekanan saat memilih makanan.

Tenaga kesehatan menyoroti keterputusan antara tampilan dan indikator klinis. Meskipun bobot rata‑rata penduduk lebih rendah dibandingkan dengan populasi negara Barat, risiko hipertensi, diabetes, dan sindrom metabolik pada kelompok Asia Timur dapat muncul pada indeks massa tubuh yang lebih rendah. Pergeseran pola makan sejak tahun 1960‑an, termasuk peningkatan porsi pangan hewani dari sekitar 3 persen menjadi 20 persen dari total asupan, serta konsumsi karbohidrat olahan, berkontribusi pada risiko tersebut.

Selain itu, praktik rekrutmen yang meminta foto, tinggi badan, atau data fisik pada beberapa sektor memperkuat pandangan bahwa tampilan berpengaruh terhadap akses sosial dan ekonomi. Dalam situasi tersebut, keputusan diet tidak selalu diambil berdasarkan tujuan medis, melainkan untuk memenuhi kriteria non‑medis yang berlaku dalam pasar tenaga kerja.

Pendekatan kebijakan mencakup literasi media untuk mengurai pesan terkait penampilan di platform digital, skrining dini untuk gejala gangguan makan di layanan primer, serta konseling gizi berbasis bukti yang mempertimbangkan preferensi kuliner lokal. Di sektor industri, audit klaim kesehatan pada produk, panduan komunikasi untuk audiens muda, dan standar pelabelan menjadi perangkat tata kelola utama.

Ilustrasi konsultasi kesehatan. Foto: Vitaly Gariev (Unsplash)

Penyedia layanan kesehatan dapat mengutamakan target metabolik yang realistis dan mengintegrasikan pemantauan tekanan darah, gula darah, dan profil lipid dalam intervensi diet. Selain komposisi makanan, program manajemen berat badan yang berkelanjutan juga diarahkan untuk lebih memperhatikan konteks aktivitas, kualitas tidur, dan kesehatan mental. Dari sisi perusahaan, inovasi pangan rendah kalori dan pemanis generasi baru perlu disertai dengan uji penerimaan sensoris dan evaluasi dampak terhadap pola makan.

Budaya diet di Korea bergerak di antara tradisi kuliner yang mapan dan industri manajemen berat badan yang berkembang pesat. Standar penampilan memberi arah pada perilaku makan, sementara inovasi teknologi memperkaya opsi produk dan layanan. Di tingkat populasi, indikator klinis tidak selalu selaras dengan tampilan, sehingga intervensi perlu menempatkan kesehatan sebagai acuan utama.

Keseimbangan antara transparansi informasi, ketersediaan pilihan produk, dan perlindungan kelompok rentan menjadi kunci. Praktik makan yang berkelanjutan memerlukan perpaduan bukti klinis, sensitivitas budaya, dan penghormatan terhadap masing-masing individu, agar dinamika diet tidak sekadar merespons tuntutan visual, melainkan berkontribusi pada kesehatan yang terukur.