Depok, 9-10 Februari 2026 – Diselenggarakan di bawah inisiatif ASEAN–Korea Platform for Great Minds (AKPGM) dan didukung oleh ASEAN–Korea Cooperation Fund (AKCF), konferensi 2026 ASEAN–Korea Academic Conference menjadi forum unggulan yang merefleksikan hubungan ASEAN–Korea yang menjadi semakin erat pasca dibentuknya ASEAN–Korea Comprehensive Strategic Partnership (CSP).
Konferensi secara resmi dibuka oleh Prof. Kim Dong-Yeob, Presiden dari Korean Association of Southeast Asian Studies (KASEAS), yang menekankan pentingnya penguatan jejaring akademik ASEAN–Korea dalam mendorong produksi serta pertukaran pengetahuan lintas negara.
“Tujuan konferensi ini adalah mendorong dialog lintas negara di antara akademisi dan praktisi melalui jejaring akademik ASEAN–Korea. Kegiatan ini merefleksikan semangat kerja sama yang telah terjalin sejak 1994 untuk memastikan masa depan yang progresif bagi Studi Asia Tenggara dan relasi ASEAN–Korea,” ujar Prof. Kim Dong-Yeob.
Sementara itu, Prof. Evi Fitriani, Ph.D., Dekan FISIP Universitas Indonesia, dalam sambutannya menegaskan peran strategis dari perguruan tinggi dalam membangun pemahaman kawasan dan memperkuat relasi serta jaringan antar masyarakat melalui kerja sama akademik.
“Di tengah tekanan geopolitik global saat ini, penting bagi negara-negara untuk memperkuat kolaborasi guna membangun pemahaman yang lebih baik terhadap isu global dan dampaknya bagi kawasan. Sebagai akademisi, kita memiliki tanggung jawab untuk memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan dalam merespons tantangan tersebut,” ujar Prof. Evi Fitriani.
2026 ASEAN–Korea Academic Conference menjadi salah satu cerminan dari semakin menguatnya hubungan ASEAN–Korea setelah pembentukan CSP. Dengan menyediakan platform yang inklusif untuk dialog antar akademisi dari berbagai disiplin ilmu dan kewarganegaraan, konferensi ini berupaya memperkuat fondasi intelektual pembangunan komunitas ASEAN dan kerja sama ASEAN–Korea.
Program konferensi menghadirkan empat panel tematik, yaitu:
- Southeast Asian Studies in Southeast Asia
- Korea–ASEAN Studies: Cross-Regional Knowledge Production
- Educating Southeast Asia—Programs, Pedagogies, and Partnerships
- Contemporary Issues in ASEAN–Korea Relations: Challenges and Future Directions
Melalui keempat panel tersebut, para peserta mendiskusikan beragam isu mulai dari pendidikan dan metode pengajaran (pedagogi), transformasi sosial-budaya, diplomasi, hingga dinamika geopolitik kawasan, dengan pendekatan komparatif dan multidisipliner.
Signifikansi akademik dari konferensi ini juga dapat terlihat dari luasnya partisipasi. Kegiatan ini menghadirkan empat panel chair, enam belas presenter, dan enam belas discussant dari berbagai universitas di negara-negara ASEAN dan Republik Korea, yang berasal dari beragam disiplin ilmu. Komposisi ini mendorong diskusi yang dinamis, pertukaran perspektif yang konstruktif, serta dialog antargenerasi akademisi dalam memperkuat kolaborasi kawasan.
Melalui sambutan pembukaannya, Chargé d’affaires, a.i. dari ROK Mission to ASEAN, Jeonghan Hahm menyampaikan harapan agar diskusi berjalan inspiratif dan bermanfaat, sekaligus berharap konferensi tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat pertukaran intelektual, saling menghormati, dan harapan bersama antara Korea Selatan dan ASEAN.
Prof. Myo Oo dari Myanmar Future Forum, salah satu discussant dalam konferensi ini, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting untuk memperluas pengembangan Studi Asia Tenggara. “Konferensi ini merupakan titik awal yang sangat baik untuk memperluas Studi Asia Tenggara. Dengan adanya kerangka seperti ASEAN Plus Three, terdapat peluang besar untuk memperluas partisipasi dan melibatkan lebih banyak peneliti, sehingga pertukaran akademik dapat semakin kaya dan memperdalam pemahaman kawasan,” ungkapnya.
Pelaksanaan konferensi ini dapat berlangsung melalui dukungan berkelanjutan dari ASEAN–Korea Cooperation Fund (AKCF) yang berperan penting dalam mendorong konektivitas antar masyarakat dan memperkuat kerjasama akademik berkelanjutan antara ASEAN dan Republik Korea.
Sebagai institusi tuan rumah, Korea–Indonesia Connection (KIC) FISIP UI menegaskan komitmennya dalam memfasilitasi kemitraan akademik jangka panjang antara ASEAN dan Korea. Direktur Program KIC FISIP UI, Getar Hati, Ph.D., menyatakan “KIC FISIP UI merasa terhormat menjadi tuan rumah konferensi ini. Pertemuan ini merupakan ruang strategis yang mempertemukan perwakilan dari ASEAN dan Korea, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang berkelanjutan di bidang akademik, sosial, dan budaya.”
Melalui penyelenggaraan 2026 ASEAN–Korea Academic Conference, para institusi dan akademisi yang terlibat berharap dapat memperkuat infrastruktur akademik Studi Asia Tenggara, mendorong lahirnya generasi baru Southeast Asianists, serta berkontribusi pada fondasi intelektual bagi pembangunan komunitas ASEAN dan hubungan ASEAN–Korea.