Syngman Rhee. (Foto public domain)

Syngman Rhee (Lee Seung-man) menjabat sebagai presiden pertama Republik Korea sejak 1948. Ia membangun fondasi negara baru di selatan Semenanjung Korea pada masa Perang Dingin, memimpin di tengah menguatnya sentimen anti-komunis, sekaligus meninggalkan jejak otoritarianisme yang berakhir pada pengunduran dirinya setelah Revolusi April 1960.

Rhee lahir pada 26 Maret 1875 di P’yŏngsan, Hwanghae (kini Korea Utara). Ia berasal dari keluarga petani dengan garis keturunan bangsawan, di mana Rhee merupakan keturunan ke-16 Pangeran Besar Yangnyeong, putra Raja Taejong dari Dinasti Joseon. Pada usia sembilan tahun ia sempat buta akibat cacar, lalu pulih setelah ditangani oleh seorang dokter dari Amerika. Peristiwa itu, bersama dengan pendidikan yang ia terima kemudian, membentuk pandangannya yang pro-Barat.

Awalnya Rhee menempuh pendidikan Konfusianisme untuk persiapan ujian negara gwageo. Pada 1894 ia masuk Pai Chai Academy, sekolah Metodis di Seoul. Di sana ia mempelajari bahasa Inggris, berpindah keyakinan ke Kristen, dan mengembangkan nasionalisme. Kemudian pada 1896, ia bergabung dengan Independence Club.

Syngman Rhee, 1905. (Foto public domain)

Kegiatan aktivismenya membuat Rhee ditangkap pada 1897 atas tuduhan berkonspirasi melengserkan Raja Gojong dan ia ditahan hingga 1904. Selama di penjara ia menulis beberapa buku, di antaranya adalah catatan Perang Tiongkok–Jepang dan kamus Inggris–Korea. Setelah bebas pada Februari 1904 di awal Perang Rusia–Jepang, ia berlindung pada misionaris Henry G. Appenzeller, pendiri dari Pai Chai.

Pada 1904 Rhee berangkat ke Amerika Serikat untuk menggalang dukungan bagi kemerdekaan Korea. Ia kemudian meraih gelar doktor di Princeton University pada 1910, menjadikannya salah satu tokoh Korea pertama dengan pendidikan doktoral di AS. Setelah sempat pulang pada 1910–1912, tekanan kolonial Jepang memaksanya kembali ke pengasingan. Sejak tahun 1913 Rhee bermukim di Hawaii, membangun jaringan diaspora dan lobi internasional selama puluhan tahun.

Protes damai di Seoul, Maret 1919. (Foto public domain)

Gerakan 1 Maret 1919 melahirkan Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai. Rhee dipilih sebagai presiden pertamanya pada 1919, meskipun kemudian dilengserkan pada 1925 akibat perbedaan internal. Ia kembali menjabat pada tahun 1947–1948. Dukungan terhadapnya datang dari beragam pihak, termasuk Kim Ku dan Lyuh Woon-hyung. Pada akhir 1930-an Rhee menetap di Washington dan menjadi tokoh kemerdekaan Korea yang paling dikenal dan mudah diterima pejabat Amerika karena kefasihan berbahasa Inggris dan jejaringnya.

Setelah Republik Korea berdiri pada 1948, Rhee terpilih sebagai presiden. Pemerintahannya segera menerapkan hukum keamanan dalam negeri yang keras dan membentuk aparat intelijen serta keamanan untuk membendung gerakan komunis. Penahanan massal terhadap tersangka simpatisan komunis terjadi menjelang Perang Korea, termasuk pembentukan Bodo League yang mencatat ratusan ribu anggota untuk program “pendidikan ulang”. Terjadi berbagai pelanggaran HAM berat dalam program ini, termasuk eksekusi terhadap tahanan politik saat invasi Korea Utara pada 1950. Di masa ini pula, Kim Ku yang menjadi rival politik Rhee tewas terbunuh pada 26 Juni 1949 oleh Ahn Doo-hee. Kasus tersebut kerap dikaitkan dengan jejaring keamanan negara Korea pada saat itu.

Namdaemun saat Perang Korea, 1951. Foto: Gene Putnam (Public domain)

Secara konstitusional, Rhee memperpanjang kekuasaan melalui perubahan mendasar. Pada tahun 1952, ia mendorong amandemen yang mengubah mekanisme pemilihan presiden agar lebih menguntungkannya. Kemudian pada 1954, amandemen lain disahkan untuk melonggarkan batas masa jabatan. Perhitungan suara yang kontroversial, termasuk penafsiran pembulatan, membuat perubahan tersebut lolos dari mata publik dan secara efektif menghapus batas masa jabatan presiden.

Perang Korea pecah pada 25 Juni 1950. Pemerintah diungsikan ke selatan ketika Seoul jatuh, sementara jembatan Han diledakkan pada 28 Juni untuk menghambat laju pasukan Korea Utara. Dari Busan, Rhee mempertahankan administrasi dan menekan garis pertahanan di sekitar lengkung Naktong. Pandangannya tegas, ia bersikukuh bahwa penyatuan harus dicapai dengan menguasai utara. Sikap ini kerap berseberangan dengan strategi PBB, terutama setelah Tiongkok mengintervensi pada akhir 1950.

Hubungannya dengan petinggi PBB dan pejabat Amerika kerap dipenuhi ketegangan. Ia mendukung pendekatan keras Jenderal Douglas MacArthur terhadap Tiongkok. Keputusan sepihak Rhee untuk membebaskan tawanan perang Korea Utara juga memperburuk relasi dengan sekutu. Ketika gencatan senjata ditandatangani pada 1953, ia menolak menandatangani karena menilai pembelahan Semenanjung Korea tidak dapat diterima.

Pemilu Maret 1960 menjadi titik balik penting dalam sejarah Korea. Rhee yang berusia 84 tahun meraih masa jabatan keempat, sementara kemenangan telak Lee Ki-poong dalam pemilihan wakil presiden memicu kecurigaan dan adanya tuduhan kecurangan. Protes mahasiswa meletup di Masan pada 15 Maret. Penemuan jenazah seorang siswa yang hilang selama kerusuhan semakin memicu kemarahan publik. Pada 19 April, demonstrasi besar menyebar ke Seoul dan kota-kota lain. Bentrokan dengan aparat menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa.

Demo pada 18 April 1960 di Korea University. (Foto public domain)

Pada 25 April, dosen dan berbagai lapisan masyarakat bergabung ke jalan. Tekanan publik makin kuat. Wakil presiden mengundurkan diri pada 22 April. Rhee akhirnya menyatakan mundur pada 26 April 1960. Ia tinggal sementara di Ihwajang, lalu pada 29 Mei berangkat ke pengasingan di Hawaii. Revolusi April mengakhiri dua belas tahun kekuasaan yang dibentuk oleh anti-komunisme keras, kebijakan keamanan domestik yang represif, dan perubahan konstitusi yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

Syngman Rhee menempati posisi penting dalam sejarah negara Korea Selatan. Ia menjadi arsitek awal institusi kenegaraan pada masa pembelahan semenanjung dan krisis perang, sekaligus penguasa yang mempertahankan kekuasaan melalui perangkat keamanan dan perubahan konstitusi. Kejatuhannya pada 1960 menandai babak baru dalam percobaan demokratisasi di Korea Selatan.

By saungkorea

Tempat belajar dan berkumpul para pecinta Korea. Di sini kamu bisa belajar bahasa, mengikuti berita terkini, dan menambah pengetahuan tentang Korea.