Sebuah tragedi mengejutkan terjadi pada 20 Juli 2025, saat seorang pria berusia 63 tahun menembak mati putranya sendiri dengan senjata rakitan dalam sebuah pesta ulang tahun di apartemen lantai 33 kawasan Songdo International City, Incheon. Insiden ini memicu gelombang kesedihan dan kepanikan, tidak hanya di lingkungan sekitar tempat kejadian perkara saja, tetapi juga secara nasional, mengingat betapa langkanya tindak kejahatan bersenjata di Korea Selatan.
Menurut laporan pihak kepolisian, pesta ulang tahun tersebut dihadiri oleh korban, istrinya, dua anak mereka, serta beberapa kenalan. Pelaku sempat meninggalkan ruangan dengan dalih akan kembali sebentar lagi, namun pelaku kembali membawa senjata rakitan yang disimpannya di dalam mobil. Tanpa peringatan, ia menembakkan dua peluru ke dada putranya dan melarikan diri dari lokasi.
Sang istri segera melapor ke polisi pada pukul 21.31 waktu setempat. Pengejaran selama tiga jam berakhir dengan penangkapan pelaku di Bangbae-dong, Seocho-gu, Seoul, sekitar pukul 00.20. Warga apartemen melaporkan mendengar suara ledakan keras dan menemukan bercak darah di depan pintu dan lantai lift. Mereka mengaku sangat terkejut, karena tidak menyangka akan terjadi insiden senjata api di Korea.
Senjata Rakitan dan Rencana Ledakan Massal
Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa pelaku menggunakan pipa baja sepanjang 40 cm sebagai laras senapan tunggal yang diisi dengan peluru berisi butiran logam, umumnya digunakan untuk berburu. Polisi menemukan bahwa tiga peluru telah ditembakkan, sementara 86 peluru lainnya belum digunakan. Selain itu, ditemukan 11 pipa baja tambahan yang diduga akan digunakan sebagai laras senjata di dalam kendaraannya.
Namun, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah polisi juga menemukan 15 alat peledak rakitan di rumahnya di Ssangmun-dong, Dobong-gu, Seoul. Bom-bom ini dibuat dari botol plastik, wadah deterjen, dan karton susu yang diisi bensin dan thinner cat, lalu disambungkan dengan sumbu dan timer yang disetel untuk meledak serempak pada pukul 12.00 siang di tanggal 21 Juli.
Tim penjinak bom segera mengevakuasi 105 warga dari gedung apartemen tersebut dan berhasil mengamankan seluruh perangkat peledak. Penemuan ini menjadi insiden senjata rakitan paling serius di Korea Selatan sejak insiden penembakan Terowongan Opaesan pada tahun 2016.
Dampak Sosial dan Kekhawatiran Publik
Peristiwa ini mengguncang masyarakat Korea yang selama ini dikenal memiliki peraturan senjata yang sangat ketat dan tingkat tindakan kriminal bersenjata yang rendah. Manajemen apartemen Songdo mengirimkan pesan darurat kepada para penghuni dan mengumumkan peringatan melalui pengeras suara agar warga tetap berada di dalam rumah.

Pihak Netflix bahkan membatalkan acara penayangan khusus untuk serial “Trigger” akibat sensitivitas publik yang tinggi terhadap kekerasan bersenjata. Di sisi lain, warga sekitar melaporkan bahwa hubungan antara ayah dan anak tersebut memang sering diliputi pertengkaran. Sementara itu, tetangga di Seoul juga mengungkapkan bahwa pelaku awalnya ramah, namun belakangan menjadi tertutup.
Kasus ini memunculkan keprihatinan besar akan dampak konten daring yang mengajarkan pembuatan senjata, serta meningkatnya kekerasan domestik yang bisa meledak menjadi tragedi fatal. Kepolisian kini melibatkan profiler kriminal untuk menggali lebih dalam motif dan latar belakang psikologis pelaku, agar tragedi serupa dapat dicegah di masa depan.