Krisis Politik
Periode pertengahan 1970-an ditandai dengan rentetan peristiwa yang semakin memperdalam krisis. Upaya pembunuhan pada 1974 menewaskan Yuk Young-soo, istri Park. Penerapan langkah darurat membatasi ruang gerak oposisi dan kebebasan berekspresi. Insiden perburuhan di sektor tekstil dan manufaktur menegaskan ketegangan antara target ekspor dan tuntutan pekerja. Di sisi lain, dukungan pada industri berat tetap berjalan, memperluas kapasitas industri baja, galangan, dan otomotif.
Sementara itu, tokoh oposisi seperti Kim Dae-jung dan Kim Young-sam menyuarakan kritik tajam atas konfigurasi politik Yushin. Pemberhentian Kim Young-sam dari Majelis Nasional memicu unjuk rasa besar, khususnya di kota-kota pesisir selatan. Ketegangan ini menjadi latar bagi gejolak tahun 1979.

Pada 1979, rangkaian protes besar meletup di Busan dan Masan. Gejolak ini terjadi beriringan dengan krisis ketenagakerjaan dan tindakan penertiban yang keras. Krisis legitimasi menemui titik genting pada 26 Oktober 1979 ketika Park ditembak oleh Kim Jae-kyu, kepala KCIA, saat jamuan makan di rumah aman KCIA di Seoul. Motif Kim menjadi bahan perdebatan, mulai dari kalkulasi politik hingga klaim ingin menyelamatkan negara dari kebuntuan. Tewasnya Park Chung-hee mengakhiri hampir dua dekade pemusatan kekuasaan dan memicu fase pemerintahan militer yang berakhir dengan transisi demokrasi 1987.
Struktur Industri dan Perdagangan
Warisan ekonomi era Park terlihat jelas pada struktur industri yang berorientasi ekspor, bertumpu pada perusahaan besar, dan ditopang oleh kebijakan negara. Kapasitas produksi baja, kapal, mobil, dan elektronik menjadi fondasi integrasi Korea ke pasar global pada dekade-dekade selanjutnya. Jaringan infrastruktur transportasi dan energi mempercepat perputaran barang dan menurunkan biaya logistik. Pola pengembangan teknologi mengikuti kebutuhan industri, mulai dari riset terapan hingga adopsi teknologi asing yang disesuaikan.
Pertumbuhan ekspor mengubah neraca perdagangan dan mendorong akumulasi devisa. Penerapan target kinerja pada korporasi, pemberian kredit terarah, serta dukungan fiskal menghasilkan efisiensi skala. Namun pola konsentrasi ekonomi di konglomerat juga memunculkan ketergantungan pada segelintir grup usaha dan membuat isu tata kelola perusahaan menjadi sorotan pada masa sesudahnya.
Dampak Sosial dan Tata Kelola
Kebijakan industrialisasi cepat memacu urbanisasi, perubahan struktur pekerjaan, dan migrasi tenaga kerja dari desa ke kota. Di tingkat organisasi, budaya kerja menekankan disiplin dan pencapaian target. Dalam politik, penekanan pada stabilitas dan efektivitas kebijakan membentuk relasi negara–warga yang hierarkis. Ruang partisipasi politik terbatas pada era Yushin, dan penyelesaian konflik sosial cenderung ditempuh dengan cara administratif. Pada saat yang sama, pendidikan vokasional dan sains-terapan memperoleh dukungan, menumbuhkan pasokan tenaga terampil untuk sektor industri.
Warisan Politik, Dinasti, dan Perdebatan Sejarawan
Perdebatan mengenai era Park berpusat pada keseimbangan antara pertumbuhan dan kebebasan. Sebagian dari penilai menyoroti keberhasilan pemerintah Park dalam modernisasi dan pembentukan kapasitas industri. Sementara penilai lain menekankan pembatasan kebebasan sipil, pembungkaman oposisi, dan struktur kekuasaan yang tidak akuntabel. Keduanya mewarnai diskursus publik tentang rute pembangunan yang ditempuh Korea pada 1960–1970-an.

Warisan politik keluarga berlanjut ketika Park Geun-hye, putri Park dan Yuk Young-soo, menjabat sebagai presiden pada 2013 hingga dimakzulkan pada 2017. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan antara pembangunan dan demokratisasi yang mengemuka pada masa Park masih bergaung dalam politik Korea pada hari ini, baik dalam harapan pada kepemimpinan kuat maupun tuntutan akan tata kelola yang akuntabel.
Era Park Chung-hee menandai pergeseran Korea Selatan dari negara ekonomi miskin ke basis industri yang kuat, melalui perencanaan terkoordinasi, kebijakan kredit terarah, dukungan pada ekspor, dan pembangunan infrastruktur. Gerakan komunitas pedesaan memperbaiki prasarana desa dan pendapatan warga, sementara agenda industri berat memperluas kapabilitas manufaktur strategis. Di sisi politik, tatanan Yushin menstabilkan pemerintahan versi rezim, namun membatasi kompetisi politik dan kebebasan sipil serta menumpuk ketegangan yang kemudian meledak pada 1979.
Warisan ganda itu masih terlihat hingga kini. Kapasitas industri dan jaringan logistik menjadi modal bagi pertumbuhan era berikutnya, sementara pengalaman pemusatan kewenangan memberi pelajaran tentang batas efektivitas stabilitas yang dipaksakan. Setelah 1987, Korea berjalan ke arah demokratisasi dengan institusi politik yang lebih terbuka, tetapi diskusi tentang model pembangunan, peran negara, dan akuntabilitas tetap menjadi fokus utama dalam penilaian masa kepemimpinan Park Chung-hee.