
Nanjido, awalnya merupakan pulau yang subur dengan padang bunga musiman dan anggrek, mengalami perubahan drastis saat difungsikan sebagai tempat pembuangan sampah utama Seoul selama 15 tahun. Bukit sampah setinggi hampir 100 meter menggantikan lanskap alami, menimbulkan masalah lingkungan serius. Namun, melalui perencanaan matang dan upaya restorasi ekstensif, kawasan ini kini berkembang menjadi taman yang memberikan manfaat ekologi dan sosial bagi kota.
Transformasi Bekas Lahan TPA Seoul
Nanjido awalnya dikenal sebagai pulau yang ditumbuhi anggrek dan bunga gromwell (Buglossoides arvensis**)**, lokasi pertanian kacang tanah dan sorgum, serta menjadi tempat berwisata, meskipun sering mengalami banjir. Pada tahun 1977 pemerintah Kota Seoul menetapkan Nanjido sebagai lokasi pembuangan sampah karena akses mudah, luas lahan yang memadai, dan letaknya yang berada di pinggiran kota.
Sejak Maret 1978, lahan ini mulai menampung limbah domestik, konstruksi, dan industri. Metode penguburan horizontal diterapkan hingga tahun 1985, yang kemudian dilanjutkan dengan penguburan vertikal antara tahun 1986 dan 1992. Dalam waktu 15 tahun beroperasinya, sekitar 92 juta meter kubik sampah menumpuk, mengubah kontur datar Nanjido yang semula berada 8 meter di atas permukaan laut menjadi dua bukit sampah setinggi 98 meter.
Nanjido menjadi simbol daru krisis pengelolaan sampah akibat urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Awalnya, kawasan ini tidak memiliki sistem penanganan gas, pengolahan air lindi, ataupun kontrol vektor hama. Gas metana yang dihasilkan limbah terurai memicu kebakaran dan ledakan, sementara lindi berpolutan mencemari anak sungai dan mengancam ekosistem Sungai Han. Kelompok penduduk miskin yang bekerja sebagai pemilah sampah tinggal di area pemukiman di kaki bukit sampah, terpapar oleh bahaya setiap harinya.
Proses Perencanaan dan Pemilihan Stabilisasi
Pada dekade 1990-an, kesadaran akan lingkungan semakin meningkat dan Presiden Korea Selatan saat itu menunjuk Sangam, termasuk Nanjido, sebagai lokasi stadion Piala Dunia 2002 pada Mei 1998. Debat mengemuka antara relokasi sampah sesegera mungkin untuk kawasan perumahan atau stabilisasi jangka panjang dan restorasi ekologi.
Seoul akhirnya memilih pendekatan jangka panjang. Sejak 1991, tim ahli melakukan perencanaan rinci, menetapkan skema penutupan dan pemulihan lahan tempat pembuangan. Pekerjaan stabilisasi dimulai pada Januari 1998 dan selesai Oktober 2002, melibatkan lima tahun remediasi intensif sebelum kompleks taman mulai dibangun.
Teknologi Stabilisasi dan Pemulihan
Langkah pertama adalah meratakan permukaan bukit sampah dengan lapisan tanah penutup yang berfungsi untuk membendung bau dan mencegah penguapan gas. Sistem pengolahan air lindi dipasang untuk mengumpulkan cairan beracun dan mengalirkannya ke Instalasi Pengolahan Air Limbah Nanji sebelum dialirkan ke Sungai Han setelah proses penyaringan.
Untuk mengelola gas TPA, 106 sumur vertikal didirikan dengan jarak 120 meter per sumur, yang dirancang untuk menampung rata-rata 432.000 meter kubik gas setiap harinya. Gas metana (51 persen) dan karbon dioksida (46 persen) dialirkan ke Korea District Heating Corporation sebagai bahan bakar pemanas untuk Stadion Piala Dunia dan gedung di sekitar lokasi. Di antara tahun 2002 dan 2013, sistem ini tercatat berhasil menampung 232,592,000 meter kubik gas, menghemat biaya energi tahunan sekitar 6,86 juta KRW. Selain itu, lereng bukit juga diperkuat untuk mencegah longsor akibat pengendapan tak merata selama proses dekomposisi.
Kebijakan Nasional dan Kepatuhan Proaktif
Saat Nanjido berhenti beroperasi pada 1993, Korea Selatan belum memiliki regulasi yang jelas terkait proses pasca-TPA. Baru pada 1996 pemerintah Korea menetapkan Undang-Undang Pengelolaan Limbah yang mewajibkan “solusi teknik untuk pengelolaan lanjutan TPA” dan “pengelolaan lingkungan selama 20 tahun”, kemudian diperpanjang menjadi 30 tahun pada 2010.
Meskipun proyek Nanjido dimulai sebelum regulasi ini dibuat, pemerintah Kota Seoul secara sukarela menerapkan langkah stabilisasi yang melebihi standar nasional. Hingga hari ini, pemantauan kualitas udara, kebisingan, kualitas air, dan kondisi tanah dilakukan secara berkala dalam radius 2 kilometer di sekitar kompleks taman untuk memastikan semua kriteria lingkungan terpenuhi.
Dampak Ekologis
Restorasi ekologi Nanjido menghasilkan peningkatan keanekaragaman hayati yang signifikan. Sebelum pengembangan taman dimulai, hanya 167 spesies hewan tercatat tinggal di kawasan tersebut. Jumlah ini meningkat menjadi 731 spesies hewan pada 2010, dan keanekaragaman tumbuhan bertambah dari 62 menjadi 502 spesies. Habitat baru ini juga mendukung kelangsungan spesies terancam punah seperti kucing hutan.

Jaringan taman yang menghubungkan Haneul Park, Noeul Park, Sungai Han, Sungai Bulkwang, dan anak sungai Hongje menciptakan koridor ekologi yang memfasilitasi pergerakan fauna sekaligus memperluas ruang hijau kota. Fenomena tingginya spesies tanaman naturalisasi yang semula mendominasi Nanjido menyusut dari 50 persen menjadi 22 persen seiring berjalannya suksesi ekologis, menandai peralihan menuju ekosistem asli yang seimbang.
Dampak Sosial dan Edukasi
Transformasi Nanjido mengubah persepsi masyarakat tentang pengelolaan sampah. Bekas lahan pembuangan yang dulu dipandang sebagai sumber polusi kini menjadi ruang rekreasi dan pusat edukasi lingkungan.
Fasilitas Mapo Resources Recollection di antara Noeul Park dan Haneul Park menyediakan program kunjungan untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Warga Sangam New Millennium Town kini dapat menikmati akses ke ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga, dan kualitas udara yang lebih baik. Kompleks ini juga menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan budaya dan olahraga, mendukung interaksi sosial dan gaya hidup sehat. Keberhasilan Nanjido juga menginspirasi proyek serupa di berbagai negara, menegaskan posisi Seoul sebagai pelopor restorasi ekologi perkotaan.
World Cup Park
World Cup Park resmi dibuka pada 1 Mei 2002 mencakup lima taman dengan tema berbeda. Pyeonghwa Park menampilkan UNICEF Square dan kolam air alami. Haneul Park di puncak bukit menawakan pemandangan kota dan lapangan rumput perak.

Noeul Park dikenal dengan panorama matahari terbenam dan jalur patungnya. Nanjicheon Park mengikuti aliran Sungai Nanji yang telah dimurnikan, sedangkan Nanji Hangang Riverside Park menyediakan area piknik dan jalur pejalan kaki di sepanjang pesisir Sungai Han. Kompleks seluas 2,7 juta meter persegi ini menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya, menggabungkan nilai rekreasi, edukasi, dan ekologi.
Nanjido menunjukkan bahwa perencanaan dan upaya restorasi lingkungan dapat mengubah lahan terdegradasi menjadi aset kota yang berkelanjutan. Transformasi ini menjadi contoh penting bagaimana pengelolaan limbah yang bijaksana sejalan dengan pembangunan ruang publik yang ramah alam.