Bibimbap, salah satu hidangan yang menerapkan konsep Obangsaek. Foto: Sous Chef (Flickr)

Dalam kuliner tradisional Korea, warna tidak hanya menjadi pemanis tampilan saja. Warna dipahami sebagai bagian dari cara masyarakat dalam memetakan alam, tubuh, dan ritme musim. Konsep yang paling sering digunakan adalah obangsaek (오방색), yaitu lima warna yang terhubung dengan teori eumyangohaeng (음양오행), atau teori yin-yang dan lima elemen. Melalui konsep tersebut, bahan pangan dikelompokkan untuk membangun komposisi hidangan yang “lengkap” secara simbolik dan, dalam praktiknya, mendorong keragaman penggunaan bahan.

Lima warna yang digunakan dalam obangsaek adalah putih, hitam, hijau atau biru, merah, dan kuning. Masing-masing warna dihubungkan dengan elemen, arah mata angin, dan musim tertentu. Putih (baek, 백) dikaitkan dengan elemen logam, arah barat, dan musim gugur. Hitam (heuk, 흑) dikaitkan dengan air, arah utara, dan musim dingin. Hijau atau biru (cheong, 청) dikaitkan dengan kayu, arah timur, dan musim semi.

Warna merah (jeok, 적) dikaitkan dengan api, arah selatan, dan musim panas. Sedangkan kuning (hwang, 황) ditempatkan sebagai titik pusat mata angin dan dihubungkan dengan tanah. Warna kuning juga dipandang sebagai warna yang dapat melintasi musim.

Penerapan dari konsep ini dapat terlihat jelas ketika prinsip lima warna diterjemahkan ke dalam hidangan. Bibimbap sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana satu mangkuk dapat memuat komposisi warna. Nasi putih menjadi dasar, lalu berbagai jenis sayuran dan pelengkap disusun terpisah sebelum diaduk. Unsur hijau dapat hadir lewat bayam, unsur merah lewat gochujang (pasta cabai), unsur kuning lewat kuning telur, unsur hitam lewat rumput laut atau bahan berwarna gelap lainnya, dan unsur putih lewat tauge atau komponen berwarna terang.

Kimbap. Foto: changupn (Pixabay)

Kimbap juga dapat dilihat dengan cara serupa karena dalam satu gulungan biasanya terdapat unsur hijau dari sayuran, kuning dari danmuji atau telur, putih dari nasi atau telur, merah dari isian tertentu, dan hitam dari nori sebagai pembungkus.

Obangsaek juga dapat dibaca dari bagaimana cara masyarakat Korea menyusun meja makan. Banchan (반찬), lauk pendamping yang dihidangkan bersama dengan nasi dan sup, cenderung disajikan sebagai kumpulan porsi kecil dengan bahan yang bervariasi. Dalam praktik rumah tangga dan restoran, ragam banchan membuat obangsaek dapat lebih mudah tercapai di tingkat meja dan tidak hanya terbatas pada satu hidangan.

Di beberapa penjelasan tradisional, warna juga dipasangkan dengan rasa, sehingga obangsaek sering kali berpadu dengan gagasan lima rasa atau omi. Hubungan yang sering dibuat dari kedua konsep tersebut adalah hijau atau biru dengan rasa asam, merah dengan rasa pahit, kuning dengan rasa manis, putih dengan rasa pedas, dan warna hitam dengan rasa asin. Dalam pengelompokan ini, rasa dalam makanan dianggap memiliki keterkaitan dengan organ tertentu, serta dibedakan menurut sifat yin dan yang.

Beragam jenis banchan. Foto: ijs (Wikipedia)

Ada penjelasan yang mengelompokkan pedas, asin, dan manis sebagai rasa yang mendorong keluar, sedangkan asam dan pahit sebagai rasa yang mengumpulkan energi ke dalam. Selain fungsi simbolik, konsep ini juga memiliki fungsi praktis, di mana variasi warna turut memastikan variasi rasa hadir dalam satu sesi makan.

Keterkaitan warna dengan musim membuat obangsaek berhubungan dengan prinsip hidangan musiman. Hijau diasosiasikan dengan musim semi dan paling mudah ditemui dalam hidangan bom-namul (봄나물), sayuran liar musim semi yang dimakan sebagai penanda perubahan musim. Merah diasosiasikan dengan musim panas, dan musim tersebut dikaitkan dengan filosofi iyeolchiyeol (이열치열), yaitu menghadapi panas dengan makanan panas, yang sering dicontohkan lewat samgyetang (삼계탕).

Putih dipasangkan dengan musim gugur, masa panen dan persiapan menuju musim dingin. Hitam dipasangkan dengan musim dingin, dan musim tersebut dikaitkan dengan kimjang (김장), yaitu tradisi membuat dan menyimpan kimchi dalam jumlah besar untuk konsumsi di musim dingin.

Konsep obangsaek masih dikenal oleh generasi muda pada hari ini, meskipun tidak semuanya menyadari bahwa hidangan yang mereka konsumsi mengikuti konsep tersebut. Di bidang desain, seni, kuliner profesional, dan program warisan budaya, istilah obangsaek masih dipakai secara sadar. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengikuti pola makan dan estetika yang selaras dengan obangsaek tanpa perlu menyebut istilahnya.

Obangsaek menjadi cara untuk membaca kuliner Korea sebagai sistem yang menghubungkan tampilan, komposisi, dan ritme musim. Lima warna bekerja sebagai kerangka yang membantu masyarakat dalam menyusun variasi bahan, baik dalam satu hidangan seperti bibimbap dan kimbap, maupun dalam satu meja lewat banchan.

Ketika warna juga dipasangkan dengan rasa, lalu dibawa ke konteks makan musiman, obangsaek juga menjadi cara untuk melihat bagaimana tradisi kuliner dapat membangun aturan praktis tanpa memisahkan estetika dari kebiasaan makan.