Kalender Juche
Kalender Juche 99 (2010). Foto: Roman Harak (Wikipedia)

Korea Utara menghentikan penggunaan kalender Juche setelah 27 tahun dan kembali memakai kalender Gregorian pada tahun 2024. Langkah ini mulai terlihat sejak Oktober 2024, ketika rujukan tahun Juche tidak lagi tampil dalam sejumlah publikasi, dan tercermin sepenuhnya pada kalender tahun 2025 yang hanya menampilkan tahun Gregorian.

Kalender Juche menetapkan 1912, tahun kelahiran Kim Il Sung, sebagai Tahun 1. Dengan penghitungan sederhana, tahun Gregorian dapat dikonversi menjadi tahun Juche dengan mengurangi 1911, sehingga tahun 2024 Masehi setara dengan Juche 113.

Mulai Oktober 2024, rujukan angka tahun Juche dalam dokumen yang beredar ke publik mulai berkurang. Kalender resmi 2025 menjadi pertama kalinya penomoran Juche tidak lagi dicantumkan dan hanya menggunakan tahun Masehi.

Gagasan kalender Juche tumbuh dari kerangka ideologi Juche yang menempatkan kemandirian politik dan ekonomi sebagai prinsip utama. Sistem penanggalan ini mengambil inspirasi dari tradisi penamaan era yang pernah dikenal di Asia Timur, sekaligus meminjam struktur kalender modern yang mengaitkan perhitungan tahun dengan satu figur pendiri.

Kim Il Sung, 1969 (Foto public domain)

Sebelum diberlakukan secara formal, praktik merujuk tahun dari kelahiran Kim Il Sung sudah dikenal secara informal, sehingga adopsi sistem ini secara resmi lebih merupakan kodifikasi dari kebiasaan yang telah berjalan sebelumnya.

Pada 8 Juli 1997, tepat tiga tahun setelah wafatnya Kim Il Sung, pemerintah Korea Utara mengumumkan dekret yang menetapkan tahun 1912 sebagai titik awal kalender nasional. Implementasi publik dimulai pada tanggal 9 September, bertepatan dengan Hari Berdirinya Republik.

Aturan pelaksanaannya menegaskan bahwa semua peristiwa sebelum 1912 tetap ditulis dengan tahun Gregorian, sedangkan peristiwa setelah 1912 dapat dicantumkan dalam tahun Juche, dengan atau tanpa padanan tahun Masehi dalam tanda kurung. Sistem ini kemudian muncul serentak di berbagai media resmi, surat kabar, dan dokumen administrasi.

Konversi kalender Juche bersifat langsung dan mudah diterapkan, hanya menggunakan penghitungan sederhana. Tidak ada kategori “sebelum Juche” dalam penghitungan, karena periode sebelum 1912 menggunakan penanggalan Gregorian seperti biasa.

Dalam praktiknya, penulisan ganda sering digunakan pada dokumen publik, dengan tahun Juche dicantumkan bersama tahun Gregorian. Mekanisme ini memudahkan pembacaan lintas sistem tanpa harus mengubah struktur kalender lunar atau solar yang digunakan sehari-hari.

Selama masa berlakunya, kalender Juche melampaui fungsi penanggalan teknis. Sistem ini berperan sebagai pengingat harian atas posisi sentral pendiri negara dalam narasi nasional. Selain itu, tanggal 15 April 1912 juga diperingati sebagai Hari Matahari dan menempati posisi penting dalam kalender perayaan.

Perayaan Hari Matahari 2014. Foto: Uri Tours (uritours.com) (Wikipedia)

Jejak budaya ini tampak pada terbitan resmi, sertifikat, dan materi promosi domestik yang banyak menggunakan penanggalan Juche. Bagi pengunjung internasional, barang cetak dengan penanda Juche menjadi objek kenang-kenangan yang menggambarkan kekhasan cara negara tersebut menata waktu.

Penghentian kalender Juche pada 2024 mengubah cara penulisan tahun di ruang publik. Kalender 2025 yang hanya menyertakan tahun Gregorian menyederhanakan rujukan tanggal di tingkat domestik dan memudahkan pembacaan lintas batas.

Peralihan ini tidak mengubah kronologi masa lalu, karena catatan yang sudah terbit tetap merefleksikan sistem ganda yang berlaku sebelumnya. Namun, di masa mendatang, konsistensi penggunaan Gregorian diperkirakan akan mengurangi kebutuhan konversi penanggalan dalam komunikasi resmi dan penerbitan.

Kalender Juche lahir dari kebutuhan politik dan simbolik pada akhir 1990-an, lalu berfungsi selama hampir tiga dekade sebagai perangkat penanggalan sekaligus penanda identitas negara. Penghentiannya pada 2024 dan konsolidasi penuh pada kalender 2025 menandai peralihan ke rujukan waktu yang lebih seragam. Dengan demikian, Korea Utara menutup fase penanggalan berbasis tahun kelahiran Kim Il Sung dan kembali ke sistem yang selaras dengan praktik internasional.