Pembebasan aktivis Korea, Agustus 1945. (Foto public domain)

Gwangbokjeol, atau yang dikenal juga sebagai Hari Pembebasan Republik Korea, diperingati setiap tanggal 15 Agustus untuk menandai berakhirnya 35 tahun penjajahan Jepang pada 1945. Setiap tahun, pemerintah, lembaga kebudayaan, dan masyarakat menggelar upacara, mengibarkan bendera nasional Taegeukgi, serta menyelenggarakan berbagai program edukatif di museum maupun di situs bersejarah.

Tanggal 15 Agustus 1945 menjadi titik balik penting di Semenanjung Korea ketika Jepang menyatakan menyerah pada penghujung Perang Dunia II. Sejak aneksasi pada tahun 1910, pemerintah kolonial menetapkan berbagai peraturan seperti pembatasan kebebasan sipil, sensor budaya, mobilisasi tenaga kerja, dan kerja paksa.

Seodaemun Prison History Museum. Foto: VisitKorea

Pada masa-masa akhir pendudukan, eksploitasi warga semakin meningkat. Sebagian besar laki-laki dikirim untuk bekerja di pabrik atau ke garis depan peperangan, sementara banyak wanita menjadi korban kekerasan berbasis gender dalam sistem perbudakan seksual. Setelah pengumuman kekalahan Jepang, pernyataan kemerdekaan disambut oleh kerumunan warga yang membanjiri jalanan, diikuti dengan pembebasan tahanan politik dan dikibarkannya kembali simbol-simbol nasional.

Namun, euforia itu diiringi dengan konsekuensi geopolitik baru ketika pasukan Sekutu memasuki wilayah Korea dan garis demarkasi di paralel ke-38. Tindakan tersebut kemudian berujung pada terpisahnya Korea menjadi dua dan memicu perang saudara di awal dekade 1950-an.

Peringatan kenegaraan utama umumnya diselenggarakan di Sejong Center for the Performing Arts di Seoul ataupun Independence Hall of Korea di Cheonan yang dimulai pada pukul 10.00. Upacara dihadiri presiden, pejabat pemerintah, korps diplomatik, dan perwakilan dari berbagai kelompok masyarakat.

Tema yang diusung pada peringatan tahun 2025 adalah “Light Found Together, Illuminating Korea.” Latar panggung menampilkan 80 bendera sebagai penanda delapan dekade sejak merdekanya Korea.

Sejong Center for the Performing Arts. Foto: Korea Tourism Organization

Rangkaian acara meliputi pembacaan Ikrar Kesetiaan yang dipimpin oleh tokoh publik, pidato presiden, dan penganugerahan tanda jasa bagi keturunan pejuang kemerdekaan. Sebanyak 311 orang memperoleh penghargaan ini pada 2025, dengan sebagian dari penerima hadir langsung di lokasi upacara.

Seruan manse menjadi penutup tetap dari seremoni ini. Untuk menautkan memori sejarah dengan teknologi, penyelenggara memanfaatkan audio hasil pemodelan kecerdasan buatan yang merekonstruksi seruan dari pemimpin gerakan kemerdekaan Kim Gu pada 1946, lalu memadukannya dengan suara seruan bersama dari para pejuang dan keturunannya.

Musikal yang ditampilkan dalam upacara merupakan kombinasi antara tradisi dan modernitas, seperti musik pembuka “Arirang Rhapsody” yang menggabungkan musik tradisional, orkestra, dan paduan suara. Keterlibatan publik juga ditekankan melalui partisipasi 80 keturunan pejuang di atas panggung.

Arirang Rhapsody – Lee Ji Soo

Lagu resmi Gwangbokjeol, dengan lirik karya Jeong Inbo dan melodi ciptaan Yoon Yongha, turut dinyanyikan untuk menegaskan tema pemulihan cahaya dan kesinambungan sejarah dari masa pendudukan hingga kemerdekaan.

Pada 15 Agustus, ruang publik di seluruh negeri dipenuhi bendera Taegeukgi. Bendera berkombinasi merah biru dengan empat trigram tersebut dikibarkan di berbagai titik seperti jalan raya, gedung pemerintahan, alun-alun, kendaraan umum, hingga rumah-rumah warga. Pemerintah daerah dan lembaga budaya menata instalasi berskala besar untuk memperkuat visual dari hari peringatan ini.

Di pusat kota Seoul, “Taegeukgi Hill” setinggi enam meter dengan ratusan baling-baling bertema bendera menjadi spot foto sekaligus penanda momen peringatan. Sejumlah bangunan utama di sekitar Gwanghwamun dan Sejong Center menurunkan tirai raksasa bermotif bendera untuk meningkatkan visibilitas. Transportasi umum pun ikut serta melalui pelapisan visual khusus pada bus kota serta armada yang melintasi Sungai Han.

Di museum dan ruang pamer, pengunjung dapat menyaksikan visualisasi evolusi desain bendera, termasuk representasi Denny Taegeukgi sebagai contoh tertua yang masih dapat dilacak. Video ini ditayangkan melalui layar luar ruang maupun instalasi dalam ruang.

Kampanye pengibaran bendera di rumah tangga berlangsung masif agar partisipasi warga merata. Bagi banyak keluarga, pengibaran bendera menjadi praktik rutin pada hari peringatan yang menghubungkan pengalaman personal dengan narasi nasional. Keberadaan bendera di ruang-ruang publik menegaskan fungsi simbolik Taegeukgi sebagai penanda kedaulatan dan kesinambungan negara.

Lembaga kebudayaan menjadikan Gwangbokjeol sebagai sarana edukasi publik. Seodaemun Prison History Hall, bekas penjara era kolonial yang diubah menjadi museum, mengadakan tur berbahasa Korea, Inggris, Jepang, dan Tiongkok.

Program pagelaran malam yang menggabungkan pementasan teater, musik, dan narasi sejarah penjara semakin menarik minat pengunjung yang ingin memahami penindasan yang dialami oleh para tahanan pada masa pendudukan. Independence Hall of Korea di Cheonan, kompleks sejarah terbesar yang berfokus pada gerakan kemerdekaan, membuka akses luas untuk umum dengan pameran tematik dan kegiatan khusus untuk memperingati 15 Agustus.

Di Seoul, jaringan museum kota menggelar kurasi yang menyoroti tokoh pergerakan, artefak hari peringatan, serta berbagai objek yang berkaitan dengan peristiwa kunci. Seoul Museum of History menampilkan materi tentang tokoh seperti Lee Sang-nyong serta koleksi benda peringatan yang dihimpun dari warga.

Seoul Museum of History. Foto: VisitKorea

Seoul Museum of Craft Art mengangkat karya bertema bendera yang menampung tanda tangan warga dan keturunan para pejuang. National Museum of Korean Contemporary History pun turut menguraikan sejarah modern dan dinamika kolonial melalui pameran naratif. Program pendidikan untuk anak menghadirkan lokakarya membuat simbol nasional, sementara sesi untuk dewasa berfokus pada konteks sejarah modern dan kontemporer.