Makan siang gratis di sekolah dirancang seimbang dengan lima komponen utama, yaitu nasi sebagai makanan pokok, sup berbahan sayuran, tahu, atau seafood, kimchi atau sayuran fermentasi, lauk protein dari ikan, daging, atau telur, serta sayuran musiman. Setiap menu disusun untuk memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan gizi harian siswa.

Standar kualitas bahan diatur dalam panduan School Meals Ingredient Quality Management Criteria yang melarang makanan olahan dengan kandungan garam, gula, atau aditif buatan yang terlalu tinggi. Menu yang disajikan menampilkan variasi protein dari ikan, unggas, telur, susu, kacang-kacangan, serta beragam sayuran dan buah segar. Siswa umumnya mendapatkan delapan hidangan dengan 25 jenis bahan berbeda setiap harinya, yang membantu membentuk kebiasaan makan sehat.

Meskipun demikian, penelitian menunjukkan adanya tantangan dalam memenuhi kecukupan gizi, terutama pada siswa dari keluarga berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada makanan sekolah. Studi program makan musim panas menemukan konsumsi kalori harian rata-rata siswa hanya sebesar 1.400 kalori, jauh di bawah kebutuhan. Sebagian siswa juga dilaporkan mengalami kekurangan asupan kalsium.

Upaya terbaru dalam pengembangan menu menekankan pengurangan makanan gorengan, manisan, dan minuman berpemanis, serta meningkatkan konsumsi biji-bijian utuh dan protein nabati. Perubahan ini mencerminkan adaptasi sistem makan sekolah terhadap kebutuhan nutrisi dan keberlanjutan lingkungan.

Ilustrasi penghitungan anggaran. Foto: Campaign Creators (Unsplash)

Pendanaan program ini dilakukan melalui skema pembagian biaya, dengan pemerintah pusat menanggung sekitar 67% dari keseluruhan biaya melalui kantor dinas pendidikan regional dan pemerintah daerah menanggung sisanya. Proporsi ini dapat bervariasi sesuai dengan kapasitas fiskal dan kesepakatan dari masing-masing daerah. Model ini memungkinkan adanya standardisasi nasional sekaligus fleksibilitas administratif lokal.

Komitmen keuangan yang besar memicu perdebatan politik pada tahap awal pelaksanaan program ini. Referendum di Seoul tahun 2011 menjadi sorotan ketika perbedaan pandangan tentang prioritas anggaran dan lingkup kebijakan kesejahteraan mencuat. Pihak konservatif berargumen bahwa memberi makan gratis untuk semua siswa, termasuk dari keluarga mampu, adalah penggunaan sumber daya yang tidak efisien. Perkiraan biaya menunjukkan program universal di Seoul membutuhkan sekitar 69,5 miliar won per tahun untuk 850.000 orang siswa, jauh lebih besar dibandingkan 280 juta won untuk perluasan bantuan yang ditargetkan hanya pada siswa kurang mampu. Bahkan, referendum itu sendiri memakan biaya sekitar 12 miliar won.

Perbedaan regional dalam pembiayaan mencerminkan kondisi ekonomi lokal, dengan provinsi yang lebih mampu terkadang menanggung porsi lebih besar ataupun meningkatkan kualitas layanan melebihi standar nasional. Skema ini terbukti efektif dalam menghadapi tantangan ekonomi, termasuk pada pandemi COVID-19, ketika pendanaan dapat tetap dipertahankan meskipun layanan terganggu.

Dari pengalaman Korea Selatan, dapat dipelajari bahwa kebijakan makan siang gratis bukan hanya soal penyediaan makanan, tetapi juga pembangunan infrastruktur, tenaga kerja profesional, dan sistem distribusi yang berkelanjutan. Implementasi bertahap memungkinkan adaptasi regional sekaligus membangun konsensus politik yang kuat. Selain itu, keberhasilan program ini menegaskan pentingnya dukungan publik dan pendanaan stabil untuk menjaga keberlanjutan layanan.