Sejak Maret 2025, Pemerintah Metropolitan Seoul mengoperasikan fasilitas baru bernama Mind Convenience Stores atau jeongsin pyeonuijeom. Program ini menawarkan dukungan kesehatan jiwa dan ruang kebersamaan bagi warga yang mengalami kesepian dan isolasi sosial menggunakan bangunan yang didesain memiliki penampilan dan suasana toko serba ada ala Korea. Menariknya, layanan ini tidak diberi label “layanan kejiwaan”.
Krisis Isolasi Sosial di Kota Besar
Seoul menghadapi perubahan demografis yang cukup signifikan. Hampir 40 persen rumah tangga kini hanya terdiri dari satu orang. Laporan lembaga riset kesehatan dan sosial menunjukkan bahwa hampir 80 persen rumah tangga satu orang berisiko tinggi meninggal dalam kesendirian. Situasi ini berkaitan dengan isu yang lebih luas, seperti tingginya angka bunuh diri dan penurunan angka kelahiran.
Di saat yang sama, stigma terhadap layanan kesehatan jiwa masih kuat. Banyak orang, terutama lansia, enggan mendatangi klinik atau pusat konseling karena takut diberi label “sakit jiwa”. Pemerintah kota kemudian menyusun program “Seoul Without Loneliness” dengan salah satu komponen utamanya adalah Mind Convenience Stores, yang dirancang sebagai pintu masuk yang lebih ringan dan mudah diakses menuju dukungan psikososial.
Konsep Mind Convenience Store
Mind Convenience Store meminjam konsep toko serba ada yang sangat umum di Korea. Dari luar, bangunan tersebut terlihat seperti minimarket kecil yang umum ditemukan di lingkungan perumahan. Setelah memasuki bangunan, pengunjung dapat duduk, makan, beristirahat, bermain gim, atau sekadar menghabiskan waktu bersama orang lain.

Perbedaannya, fasilitas ini bukan unit bisnis yang menjual barang, melainkan pusat kesejahteraan sosial yang disamarkan dalam bentuk minimarket tanpa kasir, tanpa transaksi, dan pengunjung tidak ada kewajiban membeli apa pun. Tujuannya adalah untuk menciptakan “ruang ketiga” di antara rumah dan tempat kerja, di mana warga dapat singgah tanpa rasa canggung dan tanpa memberikan kesan bahwa mereka sedang berada di fasilitas medis.
Penamaan “convenience store” membantu mengurangi hambatan psikologis. Datang ke tempat ini tidak dianggap sebagai tindakan “mencari terapi”, melainkan seperti mengunjungi ruang umum untuk menenangkan diri, makan mi instan, atau menonton film bersama warga lain.
Layanan Makanan dan Kenyamanan
Di setiap Mind Convenience Store, pengunjung dapat menikmati mi instan dan makanan sederhana secara gratis sepanjang jam operasional. Tersedia alat masak instan yang dapat digunakan sendiri, sehingga pengalaman makan terasa mirip dengan suasana minimarket pada umumnya. Beberapa lokasi juga menyediakan kopi dan minuman sederhana sehingga atmosfernya mirip dengan kafe kecil di lingkungan warga.
Fasilitas kenyamanan fisik lainnya mencakup kursi pijat otomatis, alat spa kaki, dan area istirahat dengan kursi dan beanbag. Pada musim panas, ruangan berpendingin menjadi fasilitas penting bagi warga yang tidak mampu memasang atau menyalakan pendingin udara di rumah. Banyak pengunjung lansia datang untuk sekadar duduk di ruangan sejuk sambil mengobrol dengan orang lain.
Layanan Kesehatan Jiwa dan Konseling
Selain makanan dan tempat beristirahat, Mind Convenience Stores juga menyediakan jalur akses ke dukungan kesehatan jiwa. Pengunjung dapat mengisi kuesioner penilaian rasa kesepian yang dialami atau kondisi psikologis secara mandiri, misalnya saat menunggu mi instan matang. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner membantu mengidentifikasi tingkat isolasi dan kebutuhan dukungan dari setiap individu.

Terdapat pekerja sosial atau konselor di setiap lokasi yang siap memberikan konsultasi dasar, mendengarkan keluhan, dan menghubungkan pengunjung dengan layanan kesehatan jiwa yang lebih spesifik bila diperlukan. Apabila ditemukan pasien dengan risiko tinggi, mereka dapat melakukan rujukan ke fasilitas medis atau layanan darurat yang relevan.
Di luar ruang fisik, program ini juga terhubung dengan layanan telepon kesepian selama 24 jam. Warga dapat menghubungi nomor khusus untuk berbicara dengan konselor dalam sesi yang durasinya cukup panjang, sehingga warga yang tidak dapat datang langsung tetap bisa mengakses dukungan.
Ruang Sosial dan Aktivitas Komunitas
Mind Convenience Stores juga berfungsi sebagai ruang pertemuan informal. Di beberapa lokasi, area untuk bermain gim video dan permainan papan serta aktivitas seperti pemutaran film dengan kapasitas sekitar belasan orang juga tersedia. Di sudut lain, terdapat zona aktivitas tenang di mana pengunjung dapat membaca, menggambar, ataupun melakukan kegiatan pribadi di tengah keberadaan orang lain.
Tidak semua pengunjung datang untuk berbicara. Sebagian hanya ingin duduk di ruangan yang sama dengan orang lain, merasakan kehadiran sesama, dan tidak lagi sendirian di kamar sempit. Dengan demikian, tempat ini mengakomodasi bentuk “kebersamaan pasif” yang bagi sebagian orang lebih nyaman daripada interaksi intens.
Lokasi, Pengguna, dan Aksesibilitas
Program percontohan Mind Convenience Stores dimulai di empat distrik Seoul pada akhir Maret 2025, yaitu di Gangbuk-gu, Dobong-gu, Gwanak-gu, dan Dongdaemun-gu. Lokasi tersebut dipilih karena terletak berdekatan dengan kawasan hunian berpetak kecil yang banyak dihuni warga berpenghasilan rendah dan rumah tangga satu orang.
Data awal menunjukkan tingkat pemanfaatan yang tinggi. Lokasi di Dongdaemun dikunjungi sekitar 70 sampai 80 orang per hari. Di Dobong-gu, lebih dari 60 warga datang setiap hari hanya dalam tiga minggu pertama pembukaan. Secara total, sekitar 20.000 orang telah mengunjungi empat toko ini dalam masa awal, jauh melampaui proyeksi awal pemerintah yang hanya menargetkan 5.000 pengunjung di tahun pertama.

Pada mulanya, program ini ditujukan terutama bagi lansia yang tinggal sendirian, tetapi dalam praktiknya pengunjung yang memanfaatkan fasilitas ini terdiri dari beragam kelompok umur. Anak muda yang putus kontak dengan keluarga, pekerja paruh baya yang mengalami isolasi sosial, dan warga dengan pendapatan rendah datang ke tempat yang sama. Desain ruang juga mempertimbangkan kebutuhan kelompok sensitif, misalnya menyediakan area yang lebih tenang untuk warga dengan sensitivitas sensorik, autisme, atau kecemasan.
Struktur Biaya dan Pendanaan
Semua layanan di Mind Convenience Stores disediakan secara gratis. Pengunjung tidak perlu membayar makanan, minuman, penggunaan kursi pijat dan spa kaki, ataupun sesi konseling. Fasilitas ini dimaksudkan sebagai jaringan sosial yang dapat diakses tanpa pertimbangan biaya.
Mind Convenience Stores merupakan bagian dari program “Seoul Without Loneliness” yang didanai dengan anggaran lima tahun sebesar ratusan miliar won. Khusus untuk pengoperasian dan pengembangan Mind Convenience Stores, pemerintah kota mengalokasikan sekitar 8 miliar won dalam anggaran tahun 2026. Dana ini termasuk di dalam paket kebijakan yang lebih besar untuk mendukung kelompok rentan.
Pendanaan bersumber dari anggaran kota yang disertai kerja sama dengan sektor swasta. Perusahaan dan pelaku usaha menyumbangkan barang, makanan, dan keperluan lain yang digunakan di toko. Dengan kombinasi anggaran publik dan donasi, biaya operasional dapat ditekan tanpa mengurangi prinsip akses gratis bagi warga.
Perbandingan dengan Toserba
Korea Selatan memiliki jaringan toko serba ada yang sangat padat, dengan puluhan ribu gerai yang dioperasikan oleh berbagai waralaba besar. Toko-toko tersebut menyediakan makanan siap saji, pembayaran tagihan, pengiriman paket, hingga kebutuhan sehari-hari yang mudah dijangkau warga, terutama yang tinggal sendiri dan sering makan di luar.
Mind Convenience Stores muncul dari konteks sosial yang sama, tetapi menawarkan fungsi berbeda. Jika toko serba ada komersial menanggapi kebutuhan praktis dan gaya hidup cepat, Mind Convenience Stores berfokus pada konsekuensi psikologis dari pola hidup tersebut. Fasilitas ini mempertahankan elemen “kemudahan” dalam bentuk ruang yang selalu siap dikunjungi, namun menggantikan transaksi ekonomi dengan dukungan sosial dan emosional.
Secara operasional, Mind Convenience Stores tidak mengejar keuntungan dan tidak bersaing dengan jaringan ritel. Perannya adalah melapisi infrastruktur ritel yang sudah ada dengan dimensi kesejahteraan sosial, menjadikan format toko serba ada sebagai medium untuk menghubungkan warga yang terisolasi.
Rencana Perluasan
Penggunaan yang jauh melampaui target awal menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang semacam ini cukup besar di Seoul. Fakta bahwa banyak pengunjung datang setiap hari menandakan bahwa Mind Convenience Stores dikunjungi sebagai bagian dari rutinitas.
Pemerintah kota merencanakan untuk memperluas jangkauan program ini, sehingga setiap dari 25 distrik Seoul memiliki setidaknya satu Mind Convenience Store pada tahun 2027. Perluasan ini menuntut pengelolaan anggaran yang konsisten dan pengembangan standar operasional yang seragam, mulai dari desain ruang hingga pelatihan pekerja sosial.
Di luar keberadaan toko, anggaran program juga mendukung inisiatif lain seperti pelatihan warga yang pernah mengalami kesepian untuk menjadi pendamping sebaya, penguatan layanan hotline, serta pengembangan layanan digital bagi warga yang sulit menjangkau lokasi fisik.
Model Baru Kebijakan Sosial Perkotaan
Mind Convenience Stores menggambarkan bagaimana pemerintah kota dapat memanfaatkan bentuk ruang yang sudah dikenal masyarakat untuk menangani masalah yang bersifat sosial dan psikologis. Dengan menghindari label klinis dan mengurangi hambatan biaya, program ini membuka jalur baru bagi warga yang selama ini enggan untuk mendekati layanan kesehatan jiwa.
Bagi kota-kota lain yang menghadapi pertumbuhan rumah tangga satu orang dan meningkatnya kesepian, pengalaman Seoul memberikan contoh bagaimana desain kebijakan, anggaran, dan ruang publik dapat digabungkan. Mind Convenience Stores menunjukkan bahwa konsep toko kecil di sudut lingkungan warga dapat diadaptasi menjadi infrastruktur sosial yang menjaga keberlangsungan hubungan antarmanusia di tengah kehidupan perkotaan yang semakin individualis.