
Pusan National University (PNU) mencatat sejarah baru sebagai universitas pertama di Korea Selatan yang memperkenalkan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk interpretasi dan terjemahan secara real-time.
Inovasi ini dikembangkan oleh Expert INC dan sebelumnya telah dipamerkan di ajang CES 2025 di Amerika Serikat sebagai kacamata AI paling ringan di dunia. Teknologi ini mendukung lebih dari 20 bahasa dengan tingkat akurasi penerjemahan hingga 98 persen dan menjadi bagian dari proyek besar universitas bertajuk AX Transformation Project, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar global tanpa hambatan bahasa.
Teknologi di Balik Kacamata AI
Kacamata AI yang dikembangkan oleh Expert INC memanfaatkan kemampuan pengenalan suara dan pemrosesan bahasa alami untuk menghasilkan terjemahan yang cepat dan akurat. Hasil terjemahan ditampilkan langsung dalam bidang pandang pengguna melalui sistem proyeksi internal, memungkinkan komunikasi lintas bahasa berlangsung secara alami tanpa perlu menatap layar ponsel atau perangkat lain. Dengan desain yang sangat ringan, perangkat ini dapat digunakan selama perkuliahan atau konferensi panjang tanpa menimbulkan rasa lelah.
Saat ini, kacamata tersebut mendukung lebih dari 20 bahasa termasuk bahasa Korea, Inggris, Jepang, Mandarin, Spanyol, dan Prancis. Perusahaan berencana untuk memperluas dukungan hingga 70 bahasa di versi mendatang.
Strategi Implementasi Bertahap
PNU menerapkan strategi bertahap untuk penerapan kacamata AI ini. Tahap awal dilakukan melalui uji coba di kalangan dosen, staf administrasi, dan mahasiswa pascasarjana guna menilai efektivitas sistem sebelum diterapkan di seluruh kampus.

Uji coba difokuskan pada area yang selama ini mengalami keterbatasan dukungan bahasa, seperti kolaborasi riset internasional dan layanan administrasi bagi mahasiswa asing. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengevaluasi keakuratan terjemahan dan tingkat kepuasan pengguna.
Setelah tahap uji coba selesai, penerapan akan diperluas ke seluruh departemen. Kerja sama strategis dengan Korea Management Association Consulting (KMAC) memastikan proyek ini dapat berjalan sesuai dengan standar etika dan keandalan teknologi, sekaligus menjadi model percontohan bagi universitas lain di Korea. Penerapan ini sejalan dengan peta jalan tiga tahun AX Transformation Project, yang menjadi fondasi bagi integrasi AI di seluruh aspek kegiatan universitas.
Proyek AX Transformation
Proyek AX Transformation PNU merupakan inisiatif integrasi AI paling ambisius di tingkat universitas di Korea. Diluncurkan pada Juli 2025, proyek ini memiliki kerangka strategis bernama A.U.R.A Project yang terdiri dari empat pilar utama, yaitu AI Philosophy, Unified Research, Reinforced Education, dan Adaptive Administration. Tujuannya bukan sekadar penerapan teknologi terkini saja, tetapi juga untuk membentuk kembali cara universitas menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan.
Melalui kemitraan dengan KMAC serta dukungan perusahaan besar seperti LG Chem dan Samsung SDS, proyek ini diharapkan dapat menciptakan standar baru bagi transformasi pendidikan tinggi berbasis AI. Rektor PNU, Choi Jae-won, menegaskan bahwa transformasi universitas di era kecerdasan buatan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan menjadi kebutuhan untuk menjaga daya saing global.
Dukungan bagi Mahasiswa Internasional
Penerapan kacamata AI juga diarahkan untuk membantu mahasiswa internasional, terutama dalam layanan konseling psikologis dan proses akademik yang kerap terkendala oleh perbedaan bahasa. Teknologi ini akan digunakan dalam sesi konseling dan kegiatan akademik untuk memastikan komunikasi berlangsung tanpa hambatan.

Langkah ini sejalan dengan dibukanya Global Open Major Division, program jurusan terbuka khusus untuk mahasiswa internasional yang menerima pendaftaran sejak Desember 2024. Mahasiswa baru mengikuti kursus pilihan dan kelas intensif bahasa Korea untuk meningkatkan kemampuan TOPIK mereka dari level 3 ke level 5. Kacamata AI diharapkan dapat berperan sebagai pendamping teknologi dalam masa transisi ini, mendukung proses belajar sambil meningkatkan kemandirian berbahasa.
Rektor Choi menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya universitas untuk menghapus kesenjangan pendidikan akibat perbedaan bahasa dan membangun lingkungan belajar inklusif. Dengan demikian, kacamata AI bukan sekadar alat bantu, tetapi simbol dari komitmen universitas dalam membangun komunitas akademik global yang setara dan saling terhubung.
Kehadiran kacamata AI di Pusan National University menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan efektif dalam dunia pendidikan global. Dengan dukungan riset, strategi implementasi yang matang, dan visi yang kuat, proyek ini menandai langkah penting menuju masa depan di mana batas bahasa tidak lagi menghambat pertukaran ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas budaya.