Manfaat Khusus dan Tradisi
Gwangbokjeol juga ditandai dengan pemberian manfaat khusus bagi keturunan pejuang kemerdekaan. Pada 15 Agustus, mereka memperoleh akses gratis ke museum publik, kompleks istana, dan taman nasional, serta fasilitas transportasi umum dan kereta antarkota tanpa dikenakan biaya. Kebijakan ini bertujuan untuk menghormati jasa keluarga pejuang sekaligus mendorong akses pengetahuan sejarah bagi generasi penerus.
Di tingkat kota, dukungan pendidikan turut diberikan. Pada 2025, Seoul Scholarship Foundation menyalurkan beasiswa kepada 120 keturunan pejuang yang berada di luar skema manfaat negara, masing-masing sebesar tiga juta won untuk generasi keempat hingga keenam, sebagai upaya untuk memperluas jangkauan dukungan.

Tradisi membunyikan lonceng di Bosingak Belfry, pusat kota Seoul, menjadi momen khidmat yang telah dilangsungkan sejak tahun 1949. Pada 15 Agustus pukul 11.30, lonceng dibunyikan sebanyak 33 kali sebagai bentuk penghormatan bagi para patriot yang gugur, kemudian diikuti penampilan paduan suara masyarakat berskala besar. Praktik ini menghubungkan ritus tradisional dengan memorial modern.
Di sisi kebijakan, grasi presiden kerap diumumkan bertepatan dengan hari peringatan untuk menandai awal yang baru bagi sejumlah warga. Tradisi ini juga tercermin dalam budaya populer melalui film komedi yang menyinggung dilema narapidana yang sebenarnya telah terdaftar dalam daftar grasi.
Sekolah dan komunitas memanfaatkan hari libur ini untuk kegiatan yang menguatkan pemahaman sejarah. Kegiatan seperti lokakarya kaligrafi, pembuatan layang-layang, dan festival makanan jalanan dimanfaatkan untuk membangun kedekatan generasi muda dengan simbol dan narasi nasional.
Mengenang Perjuangan
Gwangbokjeol merupakan hari peringatan nasional yang menandai berakhirnya pendudukan Jepang pada 1945. Upacara kenegaraan, pengibaran Taegeukgi, serta program museum dan komunitas merupakan cara masyarakat dan negara mengenang momen pemulihan kedaulatan.