Godae Gayo: Sastra Korea Kuno

on in Literature
Makam Raja Suro, Gimhae. Foto: Kwj2772 (Wikipedia)

Karya sastra Korea telah melahirkan banyak karya yang kaya akan makna dan sejarah. Salah satu yang paling menonjol adalah 고대 가요 (godae gayo), atau lagu-lagu kuno Korea. Lagu-lagu ini muncul pada periode Gojoseon dan berkembang hingga awal periode Tiga Kerajaan.

Lagu ini awalnya dinyanyikan sebagai pengiring ritual, kemudian berkembang menjadi sarana berekspresi yang lebih pribadi. Beberapa lagu kuno terkenal yang masih bertahan hingga saat ini termasuk “Gongmudohaga,” “Hwangjoga,” dan “Guji-ga,” yang semuanya diwariskan bersamaan dengan cerita latar belakangnya yang kaya akan makna simbolis.

“Gongmudohaga” adalah salah satu lagu kuno tertua di Korea, menggambarkan kesedihan mendalam yang diakibatkan oleh perpisahan. Menurut kisah, lagu ini dinyanyikan oleh seorang istri yang kehilangan suaminya, sembari memainkan alat musik tradisional, gonghu. Selain menjadi ungkapan kesedihan karena kehilangan, lagu ini juga memiliki makna yang lebih mendalam.

Berdasarkan cerita lengkapnya, lagu ini menceritakan tentang seorang pria gila yang tenggelam saat menyeberangi sungai, diikuti oleh istrinya yang akhirnya mengakhiri hidupnya. Sungai yang memisahkan kehidupan dan kematian ini menjadi simbol perbatasan antara dunia ini dan dunia lain. Selain itu, penggambaran ini juga telah memengaruhi banyak karya sastra Korea yang menangani tema perpisahan dan kehilangan.

“Guji-ga” adalah lagu kuno yang berakar dari mitos pendirian negara Garak, yang kini dikenal sebagai daerah Gimhae. Lagu ini dinyanyikan sebagai bagian dari ritual untuk menyambut raja pendiri Garak, Kim Suro, dengan menggali tanah dan menari di puncak Guji. Lagu ini memiliki elemen magis yang kuat, dengan lirik berisi panggilan kepada kura-kura, simbol penting dalam mitologi Korea.

Lagu ini tidak hanya memiliki fungsi sebagai nyanyian ritual, tetapi juga mencerminkan harapan akan kesuburan dan kemakmuran. Para ahli percaya bahwa “Guji-ga” adalah manifestasi dari nyanyian kolektif yang bercampur dengan mitos pendirian negara, menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara sastra dan budaya dalam sejarah Korea.

“Hwangjoga” adalah contoh lagu kuno yang menunjukkan transisi dari nyanyian kolektif menjadi lirik yang lebih personal. Ditulis oleh Gasil pada masa pemerintahan Raja Yuri dari Silla, lagu ini adalah salah satu contoh tertua dari puisi lirik individu di Korea. Menggunakan format puisi empat baris, Hwangjoga mengekspresikan perasaan pribadi Gasil yang kehilangan kasih sayang dari rajanya. Lagu ini menunjukkan evolusi dari nyanyian kolektif yang bersifat ritualistik menuju ekspresi perasaan individu yang lebih pribadi, menandai langkah penting dalam perkembangan sastra Korea.

Latar belakang historis dari “Hwangjoga” mengacu pada masa pemerintahan Raja Yuri dari Goguryeo. Menurut catatan sejarah, setelah kematian permaisuri, Raja Yuri mengangkat dua wanita baru sebagai permaisuri, yang menyebabkan konflik di antara mereka.

Ketika salah satu dari mereka meninggalkan istana karena merasa terhina, raja mencoba merayunya kembali tetapi gagal. Lagu ini lahir dari kesedihan raja yang mendalam, menggambarkan ketidakstabilan politik dan sosial saat itu. Dengan demikian, “Hwangjoga” tidak hanya menjadi puisi lirik pribadi, tetapi juga cerminan kondisi politik dan sosial pada masanya.

Dalam perspektif modern, “Hwangjoga” memiliki penafsiran yang beragam. Beberapa ahli melihatnya sebagai ekspresi sederhana dari kesedihan karena kehilangan, sementara yang lain menemukan makna sosial dan politik yang lebih dalam.

Misalnya, ada yang menafsirkan konflik antara kedua wanita tersebut sebagai simbol pertikaian antar kelompok suku. Interpretasi lain melihatnya sebagai refleksi dari persaingan kekuasaan pada masa awal berdirinya kerajaan Goguryeo. Pengaruh “Hwangjoga” tetap terasa hingga hari ini, dengan berbagai interpretasi modern dan adaptasi musik yang menunjukkan betapa kaya dan relevannya karya ini dalam konteks budaya di era modern.

Lagu-lagu kuno Korea seperti “Gongmudohaga,” “Guji-ga,” dan “Hwangjoga” adalah fondasi penting dalam sejarah sastra Korea. Lagu-lagu ini tidak hanya sekadar nyanyian saja, tetapi juga menyimpan makna magis, ritual, dan liris yang mendalam. Melalui karya-karya ini, kita bisa mengintip ke dalam emosi dan pandangan dunia masyarakat Korea kuno.

Setiap lagu membawa nilai unik yang memperkaya warisan budaya dan sastra Korea. Studi tentang lagu-lagu kuno ini membantu kita memahami identitas sastra dan budaya Korea, menunjukkan betapa pentingnya penelitian yang berkelanjutan di bidang ini untuk masa depan.

Dalam memahami karya sastra kuno Korea, kita juga memahami perjalanan panjang sebuah budaya yang kaya akan simbolisme dan ekspresi emosi yang dalam. Selain menjadi peninggalan sejarah, lagu-lagu ini juga bagian hidup dari warisan budaya yang terus berpengaruh hingga kini.