Di kompleks apartemen, ritme harian pengelolaan sampah makanan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Satu atau beberapa tong RFID ditempatkan di lokasi komunal. Setiap penghuni memiliki kartu yang dapat digunakan sebagai alat identifikasi, biasanya kartu akses apartemen atau kartu transportasi yang terhubung dengan sistem.

Untuk menggunakan tong ini, penghuni perlu memindai kartu. Mesin kemudian mengenali identitas pengguna dan membuka tutup secara otomatis. Warga memasukkan kantong sampah makanan, lalu tong akan menimbang berat tambahan tersebut. Informasi berat dan biaya yang perlu dibayarkan langsung muncul di layar. Di beberapa kompleks, biaya dipotong dari saldo prabayar, sedangkan di tempat lain biaya direkap dan ditambahkan ke tagihan bulanan.

Skema ini menghubungkan langsung perilaku membuang sampah dengan biaya yang harus dikeluarkan. Warga yang berhasil mengurangi porsi sampah atau menurunkan kadar air akan melihat penurunan biaya. Sebaliknya, rumah tangga yang sering membuang sisa makanan dalam jumlah besar menanggung biaya lebih tinggi.

Ilustrasi tong sampah. Foto: Pawel Czerwinski (Unsplash)

Untuk kawasan yang belum memungkinkan pemasangan tong RFID, seperti rumah di daerah pedesaan atau permukiman dengan kepadatan rendah, diperkenalkan sistem chip atau stiker. Warga membeli chip plastik atau stiker berbayar di minimarket, menempelkannya pada tong sampah pribadi berukuran tertentu, lalu meletakkan tong tersebut di tepi jalan pada jadwal pengangkutan. Petugas mengumpulkan sampah, mengambil chip sebagai bukti pembayaran, dan mengosongkan isi tong. Sistem ini menjadi jembatan antara kantong kuning dan tong RFID, dengan tetap menjaga prinsip bahwa penghasil sampah membayar sesuai berat.

Di balik teknologi tong RFID, terdapat kombinasi antara perangkat keras dan infrastruktur data. Beberapa perusahaan domestik menguasai pasar perangkat, disertai sejumlah pemasok internasional.

Produsen seperti Conpotech memasok tong RFID dengan klaim pangsa pasar signifikan dan puluhan ribu unit terpasang di berbagai kota. Perangkat ini dilengkapi dengan timbangan internal, sensor, dan modul komunikasi untuk mengirim data ke pusat. Perusahaan lain seperti Gaia berfokus pada mesin pengering sampah makanan untuk gedung atau fasilitas komersial. Mesin pengering berfungsi untuk mengurangi volume dan berat sampah hingga sekitar 90 persen, menurunkan biaya pengangkutan dan pengolahan.

Selain produsen tong, ada juga pemasok komponen seperti produsen tag dan pembaca RFID yang digunakan dalam sistem berbeda, termasuk proyek kota pintar yang memanfaatkan jaringan pneumatik untuk pengangkutan sampah.

Seluruh data pengumpulan, mulai dari volume, frekuensi pembuangan, hingga pola per kawasan, dikirim ke sistem pusat yang dikelola oleh Korporasi Lingkungan Korea. Platform seperti Allbaro memungkinkan pemerintah untuk memantau kinerja pengurangan sampah, mengoptimalkan rute pengangkutan, dan mengidentifikasi kawasan dengan tingkat sampah tinggi untuk kemudian dirancang intervensi tambahan.

Struktur biaya dalam sistem RFID ini dirancang sebagai dorongan perilaku, bukan hukuman. Bagi rumah tangga, biaya rata-rata bulanan untuk pembuangan sampah makanan relatif kecil, hanya sekitar beberapa ribu won per keluarga. Tarif per kilogram berbeda tergantung subsidi dan kebijakan masing-masing kota, namun prinsipsinya tetap sama: semakin berat sampah yang dibuang, semakin besar tagihannya.

Ilustrasi menghabiskan makanan. Foto: Richard Bell (Unsplash)

Biaya ini mendorong warga untuk memulai kebiasaan meniriskan air sebelum membuang sampah makanan, mengurangi porsi masakan berlebih, serta menyisakan sedikit mungkin makanan di piring. Dalam jangka panjang, pengurangan berat dan volume sampah dapat menghemat biaya pengangkutan dan pengolahan bagi pemerintah daerah.

Namun di sisi lain, biaya investasi awal perangkat RFID cukup tinggi. Setiap unit tong RFID membutuhkan biaya pembelian, instalasi, listrik, dan pemeliharaan teratur. Oleh karenanya, kombinasi antara subsidi pemerintah pusat, anggaran daerah, dan kontribusi pengelola gedung menjadi kunci keberlanjutan sistem ini.

Pada tahap awal penerapan larangan pembuangan limbah makanan ke TPA, banyak fasilitas mengolah sampah menjadi pakan ternak, terutama untuk unggas dan babi. Sampah dikeringkan dan diproses agar aman dikonsumsi.

Namun, munculnya kekhawatiran biologis, termasuk penyebaran penyakit seperti African Swine Fever (virus demam babi Afrika), membuat pemerintah meninjau ulang praktik ini. Risiko penularan penyakit lewat pakan dari sampah makanan mendorong pergeseran fokus daur ulang ke fasilitas biogas.

Fasilitas pengolahan biogas di Jerman. Foto: Cec-clp (Wikipedia)

Di fasilitas biogas, sampah makanan diolah dengan proses anaerob untuk menghasilkan gas metana yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik atau panas. Beberapa fasilitas berskala kota mampu mengolah ratusan ton sampah per hari dan memasok energi bagi puluhan ribu rumah tangga. Sisa padat dari proses ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos atau pupuk untuk lahan pertanian dan urban farming.

Walaupun sistem ini telah menekan volume sampah dan meningkatkan angka daur ulang, sejumlah tantangan tetap ada. Masalah bau masih muncul terutama pada musim panas ketika suhu tinggi mempercepat pembusukan di dalam tong sampah komunal. Walaupun tong tertutup, setiap kali tutup tersebut dibuka, bau sampah dapat tercium oleh warga sekitar.

Perawatan teknis juga menjadi isu. Tong RFID memerlukan pasokan listrik stabil dan pemeliharaan berkala. Jika terjadi kerusakan dan tong tidak dapat digunakan, sampah bisa menumpuk sementara di luar perangkat. Kontaminasi sampah dengan plastik, sendok sekali pakai, atau benda keras juga dapat mengganggu mesin pengolahan di hilir.

Selain itu, selalu ada potensi di mana sebagian kecil warga berusaha untuk menghindari biaya dengan membuang sampah makanan ke toilet atau tempat sampah umum biasa. Untuk menekan praktik ini, pemerintah daerah menerapkan denda dan memanfaatkan kamera pengawas di beberapa titik rawan pembuangan ilegal.

Perjalanan Korea Selatan dalam mengelola sampah makanan menunjukkan perubahan bertahap dari sistem tanpa pemantauan, ke skema flat-rate dan kantong standar, hingga akhirnya ke sistem berbasis RFID dengan prinsip bayar sesuai volume. Setiap tahap menyelesaikan masalah lama sekaligus memunculkan tantangan baru yang kemudian dijawab dengan kebijakan berikutnya.

Sistem RFID bukan hanya menggantikan tong sampah menjadi perangkat elektronik, tetapi mengubah cara masyarakat memandang sisa makanan. Biaya yang tampak langsung pada layar, data yang tercatat di sistem, serta keterkaitan dengan fasilitas energi terbarukan menjadikan sampah makanan sebagai bagian dari tata kelola kota yang terukur. Evolusi ini memperlihatkan bagaimana kombinasi kebijakan, teknologi, dan penataan insentif dapat mengubah praktik sehari-hari di tingkat rumah tangga.