
Choe Chiwon (崔致遠) dikenal sebagai seorang filsuf, penyair, dan pejabat berposisi tinggi pada masa Silla Bersatu akhir. Ia sering dipandang sebagai salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh dalam sejarah Korea, terutama dalam mengukuhkan posisi Konfusianisme sebagai fondasi pemikiran dan tata kelola negara.
Melalui pengalaman hidup di dua dunia berbeda, yaitu Silla dan Dinasti Tang, Choe menjadi jembatan intelektual antara Korea dan Tiongkok sekaligus menjadi perumus awal tradisi ilmiah yang kemudian berkembang penuh pada masa Goryeo dan Joseon.
Latar Belakang
Choe Chiwon lahir pada tahun 857 di Gyeongju, ibu kota Silla, dari keluarga berkedudukan “Head Rank 6” dalam sistem golpum, atau sistem golongan tulang. Kedudukan ini cukup tinggi, tetapi tidak menjadi yang paling elite. Dalam struktur sosial yang kaku, status ini menentukan batas peluang karier dari seseorang.
Pada usia sekitar dua belas tahun, ia dikirim ke Tiongkok untuk belajar di bawah naungan Dinasti Tang. Praktik mengirim anak bangsawan ke Tiongkok sudah lazim di kalangan aristokrat Silla yang ingin meningkatkan modal pendidikan dan jaringan politik dari sang anak. Bagi Choe, keberangkatan dini ini menjadi titik balik yang menentukan perkembangan intelektualnya.
Karier di Dinasti Tang
Setelah sekitar enam tahun belajar, Choe lulus ujian Binggongkwa (빈공과), ujian istana dinasti Tang yang bergengsi, dengan nilai tertinggi pada tahun 874. Hanya sedikit orang asli Silla yang berhasil lulus di ujian ini, sehingga capaian tersebut memperkuat reputasinya di lingkungan birokrasi Tang. Ia kemudian memegang berbagai jabatan resmi dalam pemerintahan.

Namanya semakin menonjol pada masa Pemberontakan Huang Chao (875–884). Choe bekerja di bawah panglima militer Gao Pian dan menyusun teks yang dikenal sebagai 토황소격문, atau “Proklamasi Menentang Huang Chao”. Dokumen ini dipandang berperan dalam menggalang dukungan moral dalam melawan pasukan pemberontak dan sering dikutip sebagai bukti kemampuan retorika dan penalarannya dalam konteks politik.
Selama sekitar enam belas tahun di Tiongkok, Choe membangun hubungan dengan kalangan penguasa, termasuk Kaisar Xizong, dan menjalin pergaulan dengan sejumlah sastrawan Tang. Namun dalam puisi-puisi yang ia tulis pada periode ini, kerap muncul tema kesepian dan kerinduan terhadap tanah kelahirannya di Silla.
Kepulangan ke Silla
Choe kembali ke Silla pada tahun 885 sebagai utusan resmi Kaisar Xizong. Setelah kembali, ia diangkat menjadi dosen dan pembaca di lembaga akademik istana, lalu naik melalui beberapa jabatan, termasuk Menteri Perang dan pejabat prefektur di berbagai wilayah. Ia juga sering dipercaya untuk menyusun dokumen-dokumen resmi negara, memadukan kemampuan sastra dengan pengetahuan administrasi.
Ambisi utamanya di Silla adalah untuk mendorong pembaruan politik dan administrasi ketika negara berada dalam situasi melemah. Pada tahun 894, di masa pemerintahan Ratu Jinseong, ia menyampaikan gagasan “십현소” atau “Usulan Kebijakan Sepuluh Poin”, sebuah paket rekomendasi reformasi yang bertujuan untuk menstabilkan kerajaan. Usulan ini mencakup penguatan otoritas raja, pembatasan penyalahgunaan kekuasaan aristokrat, perbaikan mekanisme pengangkatan pejabat, serta pembenahan sektor militer dan administrasi lokal.

Namun usulan tersebut tidak diterima. Kekakuan sistem golongan tulang, yang memprioritaskan garis keturunan di atas kecakapan individu, menjadi penghalang utama. Status Choe yang bukan dari lapisan tertinggi aristokrasi membatasi pengaruhnya, meskipun kemampuan intelektualnya telah diakui. Penolakan terhadap gagasannya menggambarkan keterbatasan reformasi struktural di Silla menjelang keruntuhannya.
Pengunduran Diri
Kegagalan menggerakkan reformasi, ditambah dengan memburuknya situasi politik Silla, membuat Choe semakin kecewa terhadap dunia birokrasi. Ia kemudian menerima jabatan lokal sebagai magistrat di prefektur Taesan, sebelum akhirnya meninggalkan pemerintahan secara seutuhnya.
Pada fase akhir kehidupannya, Choe memilih untuk menjauh, mencurahkan waktunya untuk menulis, merenung, dan mempelajari ajaran Buddhisme. Ia tinggal di berbagai kuil di pegunungan, terutama di Haeinsa yang terletak di wilayah Gyeongsang. Di sana, ia menerima murid yang datang untuk belajar, menjadikan perannya sebagai guru dan pemikir spiritual lebih menonjol dibandingkan posisinya sebagai pejabat.
Warisan Sastra
Choe Chiwon dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Ia menulis esai, puisi, dan teks tentang Konfusianisme, Buddhisme, administrasi, serta sejarah. Sebagian besar karyanya ditulis dalam bahasa Tionghoa klasik dengan gaya prosa paralel yang menjadi standar kesusastraan tinggi pada masa Tang.

Karya kumpulan tulisannya yang paling terkenal adalah 계원필경, yang sering diterjemahkan sebagai “Catatan Pena di Taman Kayu Manis”. Karya ini awalnya terdiri atas dua puluh bab dan mencakup berbagai tema, mulai dari puisi hingga tulisan administrasi, meskipun tidak semua bagian bertahan hingga hari ini. Melalui kumpulan ini, Choe menunjukkan bahwa seorang sarjana Silla mampu menguasai bentuk-bentuk sastra Tang dan berpartisipasi dalam dunia tulis-menulis Asia Timur kala itu.
Ia juga diduga menjadi penulis dari 신라수이전, atau “Kisah-kisah Ajaib Silla”, yang dianggap sebagai salah satu koleksi paling awal cerita Buddhis dan kisah rakyat Korea. Naskah aslinya tidak lagi utuh, tetapi beberapa kisahnya dapat dilacak melalui karya-karya setelahnya. Kumpulan ini membantu merekam tradisi Buddhis dan narasi lokal yang berbeda dari tradisi Tionghoa murni.
Konsep Pungnyu
Salah satu gagasan penting yang dikaitkan dengan Choe adalah konsep pungnyu (風流). Istilah ini merujuk pada etos budaya yang menekankan harmoni antara manusia, masyarakat, dan alam. Akar konsep ini dapat ditelusuri ke semangat para Hwarang, yaitu kelompok pemuda bangsawan Silla yang mengambil peran dalam bidang militer dan ritual kepercayaan.
Dalam penafsiran kemudian, pungnyu dianggap menjadi kerangka bagi cara masuarakat Korea dalam memandang seni, kehidupan sosial, dan perilaku ideal, termasuk bagaimana seseorang menempatkan diri dalam hubungan dengan lingkungan dan komunitasnya. Melalui tulisan-tulisannya, Choe berperan dalam memformulasikan dan mengartikulasikan semangat ini dalam bahasa teks, sehingga dapat dibaca dan didiskusikan oleh generasi berikutnya.
Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme
Konfusianisme sering disebut sebagai ranah utama dari kiprah intelektual Choe. Ia berperan penting dalam menjadikan Konfusianisme sebagai kekuatan intelektual dan moral yang diakui dalam masyarakat Korea. Di kemudian hari, ia menjadi orang Korea pertama yang dipuja sebagai “nabi Konfusian” di kuil nasional Confucius di Korea, bersama tujuh belas sarjana Korea lain yang menyusul setelahnya.
Namun, perhatian Choe tidak terbatas pada Konfusianisme saja. Ia juga menekuni Buddhisme dan Taoisme, menjadikannya sebagai salah satu figur yang menjembatani tiga tradisi ini. Tradisi di Haeinsa, misalnya, menempatkannya sebagai tokoh penting dalam sejarah kuil tersebut, lengkap dengan legenda bahwa sebuah pohon besar tumbuh dari tongkat yang ia tanam di sana.
Peran Guru
Selain melalui jabatan formalnya, pengaruh Choe sebagai guru juga terlihat dari murid-murid yang ia bimbing. Pada tahun-tahun terakhir di kuil, ia mengajar para pelajar yang kemudian berperan pada masa peralihan dari Silla ke Goryeo. Tradisi Konfusianisme Korea, termasuk etos pejabat dan sarjana yang berkembang kemudian, banyak dipengaruhi oleh pola pikir yang ia rumuskan.
Gagasan reformasi yang ia ajukan, seperti perlunya pengangkatan pejabat berdasarkan kecakapan dan bukan semata-mata keturunan, menjadi rujukan intelektual bagi model birokrasi yang menekankan ujian negara dan pembelajaran klasik Konfusianisme. Meskipun usulannya tidak diterapkan di Silla yang sedang mengalami penurunan, ide tentang tata kelola yang menitikberatkan pada kemampuan muncul kembali dalam sistem ujian dinas sipil pada masa Goryeo dan diperkuat lebih jauh pada masa Joseon.
Pasca Kematian
Setelah ia wafat, reputasi Choe Chiwon terus meningkat. Pada masa Goryeo, ia memperoleh gelar anumerta sebagai “Marquis Kebudayaan Cemerlang” dan namanya diabadikan dalam tatanan penghormatan resmi. Ia menjadi tokoh Korea pertama yang disemayamkan di kuil Konfusian nasional, menandai pengakuan atas perannya dalam merintis tradisi ilmiah negara.
Choe juga dikenal sebagai pendiri klan Choe dari Gyeongju. Pengaruhnya berlanjut melalui keturunannya, termasuk cucunya Choe Sung-ro yang menjadi pejabat penting pada masa Raja Seongjong dari Goryeo.
Penilaian Ulang di Era Modern
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika Korea menghadapi tekanan kolonial dan krisis nasional, beberapa pemikir nasionalis mengkritik figur-figur masa lalu yang dianggap terlalu berorientasi ke Tiongkok. Shin Chaeho, salah satu sejarawan terkemuka, melihat Choe Chiwon sebagai contoh sarjana yang terlalu mengagungkan budaya Tiongkok dan menempatkannya dalam narasi ketergantungan intelektual.

Namun, penelitian akademik mutakhir cenderung memberikan gambaran yang lebih kompleks. Choe dilihat sebagai sosok yang justru menggunakan pengetahuan yang diperoleh di Tiongkok untuk merumuskan kerangka pemikiran yang relevan dengan kondisi Silla. Ia menjadi penghubung antara dua peradaban, sekaligus perumus awal tradisi Konfusian Korea yang kemudian berkembang secara mandiri.
Choe Chiwon dalam Sejarah Korea
Choe Chiwon menempati posisi penting dalam sejarah pemikiran Korea karena hidupnya mencerminkan pergeseran besar dari Silla akhir menuju tatanan baru yang terbentuk kemudian pada masa Goryeo dan Joseon. Ia memadukan pengalaman sebagai pejabat Tang, pengajar di istana Silla, serta guru yang mengajar di berbagai kuil.
Melalui karya sastra, gagasan politik, dan aktivitas pendidikan, ia ikut membentuk landasan bagi tradisi pejabat serta sarjana Konfusian di Korea. Pada saat yang sama, keterbukaannya terhadap Buddhisme dan Taoisme memperlihatkan pola sintesis pemikiran yang khas di Asia Timur. Walaupun banyak gagasan reformasinya tidak terwujud di zamannya, pengaruhnya terus terasa dalam lembaga, teks, dan ingatan kolektif yang membentuk identitas intelektual Korea hingga berabad-abad kemudian.