
Bila berbicara mengenai kuliner Korea, sebagian besar orang mungkin akan langsung teringat pada tteokbokki, samgyeopsal, ataupun kimchi. Namun, di balik dominasi para hidangan populer tersebut, ada satu sajian seafood tradisional yang menyimpan karakter rasa luar biasa kuat dan sangat dicintai oleh warga Korea, yaitu Agujjim.
Hidangan ini memadukan potongan ikan monkfish dengan bumbu pedas gurih yang melimpah serta tekstur renyah dari tauge segar. Bagi para pecinta makanan laut dan masakan pedas, agujjim menjadi salah satu hidangan yang tidak boleh dilewatkan.
Asal-usul Agujjim
Agujjim memiliki sejarah menarik yang berakar dari kota pelabuhan Masan, bagian dari Changwon di Provinsi Gyeongsang Selatan. Dahulu, ikan monkfish atau yang dalam bahasa Korea dikenal sebagai agu sering kali dibuang begitu saja oleh para nelayan karena bentuk fisiknya yang dianggap menyeramkan, berkulit tebal, dan berkepala besar.

Pada pertengahan abad ke-20, para pedagang di pasar tradisional Masan mulai meracik ikan ini menjadi hidangan berkuah kental dan pedas untuk menghangatkan badan para pekerja pelabuhan. Daging ikan yang padat dan kenyal ternyata mampu menyerap bumbu pedas dari gochugaru dan gochujang dengan sempurna. Sejak saat itu, agujjim berkembang dari sajian rakyat kelas pekerja menjadi salah satu hidangan seafood paling tersohor di seluruh Korea Selatan.
Profil Rasa dan Keunikan Tekstur
Kunci utama kenikmatan agujjim terletak pada kombinasi tekstur dan bumbunya yang kaya. Daging ikan monkfish sering kali dijuluki sebagai lobster orang miskin karena teksturnya yang padat, kenyal, namun tetap lembut dan manis secara alami. Berbeda dengan jenis ikan laut lain yang mudah hancur saat dimasak, daging ikan ini dapat bertahan dan tetap utuh dalam proses penumisan.
Kenikmatan hidangan tersebut menjadi semakin lengkap berkat tauge kedelai berukuran tebal yang memberikan tekstur renyah, minyak wijen dan bawang putih yang menambahkan aroma gurih pekat, serta tepung maizena yang mengentalkan bumbu pedas hingga menempel sempurna pada seluruh bahan. Tak jarang, beberapa jenis seafood lainnya seperti cumi-cumi, udang, atau kerang juga ditambahkan untuk memperkaya rasa.
Cara Menikmati Agujjim seperti Warga Lokal
Agujjim bukan sekadar hidangan makan siang atau malam biasa, melainkan sebuah tradisi kebersamaan. Hidangan ini biasanya disajikan dalam porsi piring besar di tengah meja untuk dinikmati bersama-sama. Karena rasanya yang pedas dan tajam, agujjim kerap menjadi sajian favorit pendamping minuman hangat di malam hari.

Tradisi unik lainnya adalah tidak menghabiskan seluruh bumbu di piring. Warga lokal biasanya menyisakan sedikit kuah pedas dan sisa tauge, lalu meminta pelayan untuk menggorengnya bersama nasi, rumput laut kering, dan minyak wijen langsung di atas wajan. Nasi goreng berbumbu agujjim ini kerap dianggap sebagai bagian penutup paling dinanti dari keseluruhan santapan.
Manfaat Kesehatan Agujjim
Di balik cita rasanya yang tajam, agujjim juga menyimpan beragam manfaat kesehatan. Ikan monkfish merupakan sumber protein tinggi yang rendah lemak dan kalori, sementara bagian kulitnya kaya akan kolagen yang baik untuk kesehatan kulit. Tambahan tauge dalam jumlah melimpah juga menyumbangkan kandungan serat serta Vitamin C yang tinggi pada hidangan ini.
Mencicipi agujjim menjadi salah satu cara yang terbaik untuk merasakan sisi lain dari kekayaan kuliner negeri ginseng. Melalui hidangan ini, kita dapat melihat bahwa kekayaan kuliner Korea tidak hanya terletak pada hidangan populer seperti kimchi dan bulgogi saja, tetapi juga pada sajian tradisional yang memiliki karakter rasa tersendiri. Perpaduan bahan laut, sayuran, dan bumbu khas menjadikan agujjim sebagai bagian menarik dari warisan kuliner Korea yang patut dikenal secara lebih luas.
