Ilustrasi buku anak. Foto: Annie Spratt (Unsplash)

Karya sastra anak Korea telah berkembang menjadi salah satu genre yang menonjol dalam dunia penerbitan, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional. Tradisi dongeng dan cerita rakyat berpadu dengan buku bergambar modern, komik, maupun novel remaja, yang kemudian menjangkau pembaca di banyak negara melalui penerjemahan ke berbagai bahasa.

Gagasan tentang “sastra anak” di Korea mulai terbentuk pada awal abad ke-20 ketika pandangan terhadap anak berubah dari tenaga kerja kecil menjadi individu yang membutuhkan dukungan dalam pertumbuhan dan perkembangan psikologisnya. Setelah merdeka dari Jepang pada tahun 1945, masa yang sering disebut ruang pembebasan menjadi periode penting dalam dunia sastra.

Pada masa ini, penulis dan penerbit Korea berusaha untuk membangun identitas baru yang lepas dari kolonialisme. Salah satu contohnya adalah kumpulan cerita berjudul Grapes and Beads karya Hyeon Tok yang menggambarkan kehidupan sehari-hari anak di pedesaan Korea. Cerita seperti ini memperkenalkan tentang permainan tradisional, pola makan, pembagian peran gender, dan praktik budaya yang telah dikenal luas bagi pembaca lokal. Karya anak tidak hanya menghibur saja, tetapi juga merekam cara hidup masyarakat Korea pada masa transisi politik dan sosial tersebut.

Secara garis besar, sastra anak Korea dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk utama. Pertama, dongeng dan cerita rakyat menjadi yang paling populer dan terus dicetak ulang. Cerita seperti Heungbu dan Nolbu, Bidadari dan Penebang Kayu, serta Matahari dan Bulan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tokoh-tokohnya merepresentasikan nilai kemurahan hati, kerja keras, kepandaian, dan pentingnya kerja sama. Versi klasik dan adaptasi modernnya beredar berdampingan, baik dalam bentuk teks maupun buku bergambar.

Salah satu contoh dari buku pop-up. Foto: Lluis serra (Wikipedia)

Lalu, ada juga buku bergambar yang menonjolkan kekuatan ilustrasi. Beragam teknik pun digunakan, mulai dari gambar dua dimensi sederhana sampai dunia mini tiga dimensi seperti buku pop-up. Buku seperti ini menjadi medium untuk melatih kepekaan visual dan imajinasi anak, sekaligus memberi ruang eksperimen artistik bagi ilustrator.

Buku sains dan buku edukasi menjadi genre populer lainnya. Buku ini memperkenalkan berbagai konsep ilmu pengetahuan, logika, dan teknologi. Tema yang diangkat terus bergerak mengikuti zaman, mulai dari penjelasan dasar tentang alam hingga topik spesifik seperti kecerdasan buatan, pengkodean, hingga forensik.

Di luar pengelompokan tersebut, tema yang banyak muncul di antaranya adalah sejarah dan budaya, filsafat dan etika, hak asasi manusia dan perdamaian, isu lingkungan dan hewan, dinamika keluarga, serta mimpi dan cita-cita. Dengan cara ini, sastra anak menjadi pintu masuk awal bagi pembaca muda untuk memahami persoalan sosial di sekitar mereka.

Beberapa nama telah berperan besar dalam mengangkat sastra anak Korea ke panggung internasional. Baek Heena adalah salah satu figur yang paling dikenal. Ia menerima Astrid Lindgren Memorial Award pada 2020, salah satu penghargaan ternama untuk sastra anak dunia. Karyanya yang berjudul Cloud Bread bercerita tentang dua anak kucing yang menemukan roti ajaib dari potongan awan. Buku ini kemudian diadaptasi menjadi serial televisi dan pertunjukan musikal.

Cloud Bread karya Baek Heena. Foto: Digital Library of Korean Literature, Yes24.com

Baek Heena dikenal dengan teknik kolase tiga dimensi menggunakan boneka tanah liat dan set miniatur, yang menghasilkan suasana visual khas. Karya-karyanya yang paling dikenal di antaranya adalah Magic Candies, Moon Sherbet, dan Bath Fairy.

Lee Geum-yi menjadi contoh penulis yang menjembatani sastra anak dengan sastra remaja. Sejak debutnya pada tahun 1980-an, ia telah menerbitkan puluhan karya, termasuk novel remaja berjudul Yujin and Yujin yang membahas pengalaman trauma dan kekerasan di kalangan remaja. Pada 2024, ia menjadi penulis Korea pertama yang dinominasikan untuk Hans Christian Andersen Award dalam kategori penulis, penghargaan yang sering dijuluki sebagai penghargaan Nobel kecil untuk sastra anak.

Suzy Lee dikenal sebagai ilustrator yang bereksperimen dengan batas halaman buku. Trilogi buku “Border” yang terdiri dari Mirror, Wave, dan Shadow mengeksplorasi hubungan antara dunia nyata dan dunia imajinasi di dalam buku. Karyanya yang berjudul Wave berhasil meraih medali emas Society of Illustrators pada ajang The Original Art Show di Amerika Serikat, dan Suzy Lee pernah masuk dalam daftar pendek Hans Christian Andersen Award pada 2016.

Karya nonfiksi ilustratif juga hadir melalui buku seperti Borders karya Gudol dan Haerang. Buku ini membahas konsep perbatasan berdasarkan pengalaman sang penulis dalam perjalanannya mengelilingi berbagai negara. Borders dalam edisi bahasa Prancis telah meraih Prix Sorcières kategori nonfiksi, menjadikannya karya Korea pertama yang mendapat penghargaan ini.

Sejak awal tahun 2000-an, Korea secara konsisten mencatatkan prestasi di Bologna Children’s Book Fair, salah satu ajang buku anak terbesar di dunia. Berbagai judul buku anak asal Korea telah mendapat penghargaan ataupun sebutan khusus dalam kategori ilustrasi dan buku komik awal.

Mo Story edisi bahasa Jepang. Foto: Japanese Creative Bookstore

Pada Bologna Ragazzi Awards 2024, misalnya, tiga buku Korea mendapat pengakuan khusus. Ketiga karya tersebut adalah Mo Story karya Choi Yeonju disebut dalam kategori Opera Prima, dan Rice Cake House of a Tiger karya Seo Hyun serta As You Drive karya Kim Ji-an yang mendapat pengakuan dalam kategori komik untuk pembaca awal.

Rangkaian penghargaan yang didapatkan di berbagai negara memperlihatkan bagaimana kualitas artistik dan naratif buku anak Korea telah diakui di luar konteks lokalnya. Hal ini sekaligus membuka peluang penerjemahan yang lebih luas.

Dalam dua dekade terakhir, sastra anak Korea mengalami penyebaran yang lebih luas melalui penerjemahan. Karya-karya asal penulis Korea kini telah terbit dalam bahasa Inggris, Jepang, Tionghoa, Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Belanda, hingga berbagai bahasa Asia lainnya seperti Arab, Farsi, maupun Hindi.

Cloud Bread menjadi salah satu judul dengan sebaran bahasa yang paling luas. Buku ini sudah terbit dalam bahasa Inggris, Jepang, Spanyol, dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Penerjemah seperti Sophie Bowman berperan membawa karya Baek Heena ke pembaca berbahasa Inggris melalui terjemahannya untuk Cloud Bread dan Magic Candies.

Mom Is a Haenyeo karya Heeyoung Ko memperkenalkan kehidupan tiga generasi haenyeo, atau penyelam wanita di Jeju. Buku ini sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa termasuk Jepang, Inggris, Spanyol, dan Katalan.

Borders karya Gudol dan Haerang dalam edisi asli dan edisi terjemahan bahasa Prancis. Foto: THE CHOSUN Daily

Borders yang telah disebutkan sebelumnya juga tersedia dalam bahasa Jepang, Tionghoa klasik, dan Prancis. Edisi terjemahan Tionghoa klasik berhasil meraih penghargaan di Taiwan, yang menunjukkan bahwa tema perbatasan dan mobilitas dapat diterima di berbagai konteks budaya. Karya lain yang mulai dikenal di luar negeri antara lain The Legend of Tiger and Tail-Flower karya Lee Gee Eun, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Jepang menjadi salah satu pasar awal dan terpenting bagi genre buku anak Korea. Cloud Bread diterjemahkan ke bahasa Jepang tidak lama setelah terbit di Korea, lalu mendapatkan penghargaan ilustrasi di Bologna. Organisasi seperti Japanese Board on Books for Young People secara aktif mempromosikan karya Korea melalui berbagai pameran dan media.

Di bagian dunia lain yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, laju penerjemahan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dalam satu tahun terdapat beberapa buku bergambar Korea yang telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, menandakan perubahan dari situasi awal pada tahun 2000-an ketika hanya terdapat sedikit judul yang tersedia.

Bahasa Eropa lain seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol juga mulai menampilkan katalog buku anak Korea yang lebih beragam. Penerbit memasukkan judul Korea ke dalam seri multibahasa, sehingga pembaca dapat menemukan buku Korea berdampingan dengan buku dari negara lain di rak yang sama.

Jika sebelumnya fokus utama penerjemahan ada pada buku bergambar, kini novel remaja dan novel grafis Korea juga semakin banyak diterjemahkan.

Beberapa novel remaja mengangkat tema pelarian, migrasi, dan sejarah modern Korea. Ada yang bercerita tentang anak jalanan Korea Utara yang menyeberangi perbatasan, ada pula yang menghubungkan masa penjajahan Jepang dengan komunitas imigran Korea di Hawaii, dan masih banyak lagi.

Grass karya Keum Suk Gendry-Kim. Foto: Kyobo Book

Di ranah komik dan novel grafis, karya seperti Grass dan judul lain dari Keum Suk Gendry-Kim membahas tentang pengalaman perempuan Korea pada masa perang dan isu keluarga kontemporer. Meskipun sering dikategorikan untuk pembaca yang lebih dewasa, buku-buku ini beredar di rak yang sama dengan bacaan remaja dan menjadi bagian dari lanskap sastra anak dan remaja Korea yang telah diterjemahkan.

Pertumbuhan penerjemahan ini tidak terlepas dari dukungan kelembagaan. Literature Translation Institute of Korea menyediakan program hibah penerjemahan dan penerbitan. Dalam beberapa tahun belakangan, jumlah aplikasi untuk program ini meningkat drastis dibandingkan dengan pertengahan tahun 2010-an.

Dukungan tersebut memberikan insentif bagi penerbit asing untuk mengambil risiko menerbitkan karya Korea. Penerjemah mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan berbagai judul, sedangkan penulis dan ilustrator memperoleh akses ke jaringan distribusi global.

Penghargaan besar seperti Astrid Lindgren Memorial Award yang diterima oleh Baek Heena juga memberi efek ganda. Setelah penghargaan tersebut diberikan, minat terhadap buku anak Korea meningkat, baik dari sisi pembaca umum maupun pelaku industri.

Buku anak Korea yang diterjemahkan kerap dimanfaatkan sebagai bahan belajar bahasa dan budaya. Ada buku yang menyelipkan kosakata Korea bersama teks bahasa lain, ada juga yang menampilkan dialog keluarga Korea di meja makan, perayaan hari besar, ataupun kehidupan sekolah.

The Name Jar karya Yangsook Choi. Foto: Asia Society

Judul seperti The Name Jar, Waiting for Mama, Where’s Halmoni?, No Kimchi for Me! dan Bi-Bim-Bop! memperkenalkan makanan, keluarga multikultural, dan pengalaman anak keturunan Korea di luar negeri secara lebih mendalam. Pembaca anak dapat mempelajari struktur keluarga, pola interaksi, dan citra diri anak Korea tanpa harus membaca teks nonfiksi yang berat.

Sastra anak Korea berkembang dari tradisi dongeng lokal dan pengalaman sejarah abad ke-20 menjadi bidang yang berlapis, mencakup buku bergambar, novel remaja, buku nonfiksi ilustratif, hingga komik. Di dalam negeri, karya-karya ini berfungsi sebagai sarana pendidikan nilai, pengenalan sejarah, dan eksplorasi persoalan sosial.

Melalui penerjemahan ke berbagai bahasa, sastra anak Korea keluar dari batas nasional dan ikut mengisi percakapan global tentang masa kanak-kanak, keluarga, dan identitas. Penulis, ilustrator, penerjemah, penerbit, dan lembaga pendukung berperan bersama membentuk ekosistem yang memungkinkan buku-buku ini bergerak lintas negara.