
Dari restoran tua yang bertahan lama sampai “dibaca ulang” menjadi ruang gaya hidup.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat dua istilah yang sering muncul dalam liputan kuliner di Korea, yaitu NOPO (노포) dan NEWPO (뉴포). Keduanya berangkat dari minat pada tempat makan yang telah ada sejak lama, tetapi bergerak dengan visi yang berbeda.
NOPO merujuk pada restoran atau toko yang telah lama beroperasi dan mempertahankan cara masak serta menu khasnya. NEWPO muncul sebagai label untuk fenomena ketika tempat yang berakar pada NOPO mulai “dibawa” ke cara konsumsi yang lebih kontemporer, terutama oleh generasi muda yang kerap disebut sebagai generasi MZ.
NOPO: Restoran Lama sebagai Penanda Kontinuitas
NOPO umumnya dipahami sebagai toko atau restoran lama yang telah bertahan selama beberapa dekade. Dalam praktiknya, NOPO sering dikaitkan dengan tempat yang menekankan satu atau beberapa menu khas, mengandalkan resep yang sama, dan mempertahankan pola layanan yang tidak banyak berubah. Keberlanjutan operasi menjadi hal yang penting, karena tempat semacam ini diposisikan sebagai bagian dari warisan kuliner sehari-hari, bukan sebagai tren musiman.

Di Seoul, contoh NOPO yang kerap disebut dalam berbagai rujukan wisata kuliner di antaranya adalah tempat yang menyajikan menu seolleongtang, naengmyeon, atau mi soba berbasis gandum kuda (buckwheat). Nama-nama tersebut muncul bukan karena variasi menunya yang beragam, melainkan karena identitasnya telah melekat pada satu jenis hidangan yang dibangun dalam waktu lama.
NOPO Tour: Perubahan Profil Pengunjung
Salah satu aspek yang sering disoroti dari NOPO adalah perubahan demografi pengunjung. Restoran yang dulu identik dengan pelanggan usia lebih tua kini menjadi destinasi pilihan kalangan muda. Fenomena ini sering disebut sebagai NOPO tour, yaitu kebiasaan menjadikan restoran lama sebagai destinasi yang sengaja dikunjungi, bukan sekadar sebagai tempat makan harian di sekitar rumah atau kantor.
Dalam konteks ini, NOPO berfungsi sebagai rute pengalaman. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati makanan saja, tetapi juga melihat bagaimana sebuah tempat bertahan, bagaimana interiornya terbentuk, dan bagaimana ritme pelayanannya berlangsung. Media sosial memperkuat pola ini karena pengalaman di tempat yang bersejarah mudah dikemas sebagai konten. Pada saat yang sama, minat ini berkaitan dengan arus yang lebih luas, yaitu newtro, yang mendorong perhatian pada elemen dari masa lalu (retro) melalui cara konsumsi masa kini.
Rasa, Cerita, dan Klaim Autentisitas
Daya tarik NOPO bagi generasi muda biasanya tidak berdiri pada satu faktor saja. Ada anggapan bahwa tempat yang bertahan lama telah melewati seleksi pasar sehingga kualitas rasa yang disajikan dipandang lebih konsisten. Di luar itu, unsur cerita menjadi elemen penting lainnya. Tahun berdiri, kisah pemilik, atau konteks lingkungan sekitar memberi nilai naratif tambahan yang membuat pengalaman makan terasa berbeda dari restoran modern yang dibangun dengan konsep cepat berubah mengikuti tren.
Istilah “autentisitas” sering hadir dalam pembacaan NOPO, meskipun maknanya bisa berlapis. Bagi sebagian orang, autentisitas berarti resep yang tidak banyak dimodifikasi. Bagi yang lain, autentisitas hadir dari ruang fisik yang telah ada sejak lama, peralatan yang dipakai, atau kebiasaan layanan yang mempertahankan gaya lama. Menariknya, unsur nostalgia pada generasi yang tidak mengalami langsung era tersebut sering muncul sebagai nostalgia imajiner. “Nostalgia” ini lebih dekat pada rasa ingin tahu, rekonstruksi memori generasi sebelumnya, dan ketertarikan estetika, bukan kenangan pribadi.
NEWPO: NOPO dalam Cara Konsumsi Kontemporer
NEWPO sering dipahami sebagai gabungan dua kata, yaitu “new” dan “NOPO”. Dalam konteks ini, NEWPO bukan sekadar tempat baru yang bergaya retro. Titik penekanannya adalah asal-usul tempat yang memang berakar pada NOPO atau meminjam struktur NOPO sebagai referensi, lalu menjadi populer kembali melalui cara konsumsi generasi MZ.
Perbedaannya dengan kafe retro biasa terletak pada fondasinya. Kafe newtro dapat dibangun dari nol dengan dekor dari era tertentu. Sementara NEWPO menekankan bahwa “ketuaannya” bukan sekadar properti visual, melainkan melekat pada tempat, sejarah operasional, atau warisan menunya. Karena itu, NEWPO sering dibahas sebagai salah satu fenomena sosial, yaitu NOPO yang “ditarik” masuk ke dalam ekosistem, tur kuliner, dan branding gaya hidup.
Apa yang Dimodernisasi oleh NEWPO
Ketika sebuah NOPO berada dalam arus NEWPO, yang biasanya berubah adalah antarmuka pengalaman. Interior bisa ditata ulang tanpa menghilangkan jejak lama, misalnya lewat pencahayaan, penataan meja, atau detail visual yang lebih menarik untuk difoto. Cara operasional juga dapat bergeser melalui pemesanan berbasis QR, pembayaran nontunai, atau sistem antrean yang lebih teratur. Menu inti sering dipertahankan, tetapi penyajian dapat disesuaikan, misalnya lewat tata ulang plating, ukuran porsi, atau tambahan item pendamping yang mendekati budaya kafe.
Aspek lain yang ditonjolkan adalah branding dan storytelling. Nama, logo, dan narasi dipadatkan agar mudah dikenali dan mudah beredar di platform digital. Kisah tentang tahun berdiri atau sejarah gedung dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi. Dalam beberapa kasus, posisi harga dan paket menu juga menyesuaikan pola konsumsi anak muda yang menjadikan tempat makan sebagai ruang berkumpul dan menghabiskan waktu.
Batas Praktis: NEWPO vs Newtro
Dalam penggunaan sehari-hari, garis pemisah yang sering dipakai untuk membedakan antara NEWPO dan newtro cukup sederhana. Bila tempatnya baru dibangun dan “terlihat tua” karena desain, maka lebih dekat ke newtro. Bila tempatnya bertumpu pada warisan NOPO dan kemudian dipopulerkan ulang melalui kurasi dan pola konsumsi generasi MZ, maka konteksnya lebih dekat ke NEWPO. Dengan kata lain, NEWPO lebih menekankan asal-usul tempat dan perubahan cara tempat itu dibaca, bukan sekadar gaya visual.
NOPO dan NEWPO membantu menjelaskan bagaimana restoran lama di Korea tidak hanya bertahan sebagai pengingat masa lalu saja, tetapi juga beradaptasi melalui cara konsumsi baru. NOPO menekankan kontinuitas resep, ritme layanan, dan identitas tempat yang dibangun sejak awal berdiri. NEWPO menyoroti pergeseran pengalaman, ketika tempat yang berakar pada NOPO diolah kembali melalui sistem modern, kurasi media sosial, dan branding gaya hidup.
Dalam kerangka ini, ketertarikan generasi muda dapat dipahami sebagai kombinasi antara pencarian rasa yang dianggap stabil, kebutuhan akan cerita, dan cara baru memaknai otentisitas. NEWPO kemudian menunjukkan bahwa “modernisasi” tidak selalu berarti mengganti inti, melainkan bisa berupa perubahan pada cara tempat itu diakses, dioperasikan, dan diceritakan.