Ilustrasi rumah tangga. Foto: A65 Design (Unsplash)

Istilah 1.5 Household (1.5가구) muncul sebagai kata kunci utama dalam buku Trend Korea 2026 yang disusun oleh Kim Nan-do dan diterbitkan pada akhir tahun 2025. Konsep ini merujuk pada unit sosial baru yang secara fisik masih terhitung sebagai satu rumah tangga, tetapi secara fungsional beroperasi dengan pola kemandirian layaknya rumah tangga satu orang. Fenomena ini berkaitan erat dengan perubahan demografi, tekanan ekonomi, serta pergeseran nilai dalam masyarakat Korea Selatan.

Dalam konteks masyarakat Korea, 1.5 Household menggambarkan keluarga yang hidup bersama karena alasan ekonomi atau pengasuhan, tetapi saling menjaga jarak dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anggota memiliki ritme hidup, keuangan, dan ruang pribadinya masing-masing. Rumah berfungsi sebagai tempat berbagi biaya tetap seperti sewa dan utilitas, sementara konsumsi harian serta kehidupan emosional dikelola oleh masing-masing individu. Pola ini menyerupai relasi antarpenghuni rumah kos, meskipun ikatan keluarga secara hukum tetap ada.

Karena tidak termasuk dalam kategori sensus resmi, keberadaan 1.5 Household dibaca melalui indikator tidak langsung. Salah satunya adalah meningkatnya jumlah anak dewasa yang tinggal bersama orang tua hingga usia 30-an. Di Seoul, proporsi warga kelahiran awal 1980-an yang masih tinggal dengan orang tuanya pada usia 35 tahun mencapai lebih dari 40 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Kondisi ini tidak lagi mencerminkan ketergantungan penuh, melainkan koeksistensi yang lebih setara, di mana anak dewasa mengatur makan dan sebagian biaya hidupnya sendiri.

Ilustrasi ruang tidur. Foto: Spacejoy (Unsplash)

Indikator lain terlihat pada jumlah pasangan menikah yang memilih hidup terpisah secara parsial. Survei menunjukkan sebagian pasangan memilih untuk tidur di kamar terpisah atau bahkan tinggal di kota berbeda pada hari kerja. Secara fisik mereka tetap satu keluarga, tetapi secara praktik menjalani kehidupan yang tersegmentasi.

Awalnya, sebagian besar dari 1.5 Household muncul karena keterbatasan struktural. Harga perumahan di kota besar, khususnya sistem sewa berbasis deposit tinggi, membuat kemandirian tempat tinggal sulit dicapai. Dalam pernikahan, penempatan kerja di lokasi berbeda memaksa pasangan untuk menjalani hidup terpisah di sebagian waktu.

Situasi ini kemudian dikelola melalui kompromi. Anak dewasa dan orang tua berbagi ruang fisik, tetapi membatasi intervensi emosional. Pasangan menikah mempertahankan hubungan keluarga demi stabilitas ekonomi dan anak, sambil mengurangi kedekatan sehari-hari untuk menekan konflik. Kompromi ini memungkinkan keberlangsungan hidup bersama tanpa tuntutan relasi yang intens.

Seiring berjalannya waktu, 1.5 Household tidak lagi semata dipandang sebagai keterpaksaan. Dalam narasi budaya populer dan wacana sosial, pola ini mulai diterima sebagai pilihan yang rasional. Individualisme yang kuat mendorong orang-orang untuk mempertahankan otonomi finansial dan emosional, bahkan di dalam keluarga. Rekening terpisah, jadwal makan berbeda, dan konsumsi media secara individual menjadi praktik yang dianggap efisien.

Ilustrasi ruang keluarga. Foto: Francesca Tosolini (Unsplash)

Model ini menawarkan keseimbangan antara kehangatan keluarga dan kebebasan personal. Kedekatan dipilih secara selektif, bukan diwajibkan oleh norma. Rumah menjadi ruang logistik yang fleksibel, bukan pusat emosional yang menuntut keterlibatan penuh.

Fenomena 1.5 Household berkaitan erat dengan kelelahan keluarga. Dalam budaya Korea yang menuntut kepekaan dan keterlibatan emosional tinggi, peran sebagai anggota keluarga sering kali dianggap sebagai beban tambahan setelah berhadapan dengan tekanan pekerjaan. Dengan mengurangi interaksi emosional yang tidak perlu, 1.5 Household berfungsi sebagai mekanisme pertahanan. Jarak fisik dan rutinitas terpisah menurunkan frekuensi gesekan, memungkinkan individu memulihkan energi.

Pelepasan emosi dalam konteks ini bukan berarti penolakan hubungan kekeluargaan, melainkan berfungsi sebagai strategi bertahan. Relasi bergeser dari keintiman menuju kesopanan fungsional. Koordinasi tetap berjalan, tetapi tanpa tuntutan kedekatan yang mendalam.

1.5 Household dapat dipahami sebagai evolusi bertahap. Fenomena ini berawal dari keterbatasan ekonomi, dikelola melalui kompromi sosial, dan kini semakin dimaknai sebagai pilihan gaya hidup. Pola ini mencerminkan upaya masyarakat Korea Selatan untuk menyesuaikan struktur keluarga dengan realitas ekonomi dan psikologis modern.