Desa Abai. Foto: Korea Tourism Organization

Desa Abai terletak di Cheongho-dong, Sokcho, Provinsi Gangwon. Pedesaan kecil ini didirikan oleh para pengungsi dari Korea Utara pada masa Perang Korea. Dengan kuliner ala Korea Utara, pemandangan pesisir yang indah, dan perahu gaetbae yang unik, Desa Abai dikenal menjadi salah satu destinasi wisata populer di Korea. Selain itu, desa ini juga menjadi lokasi syuting dari drama “Autumn in My Heart” yang tayang pada 2000.

Desa Abai pada awalnya terbentuk ketika pengungsi perang dari Provinsi Hamgyeong di Korea Utara bergerak ke selatan sekitar tahun 1950–1951. Mereka menetap di area pesisir di Sokcho dengan harapan kepindahan itu hanya bersifat sementara. Nama “abai” berasal dari dialek Hamgyeong dan dapat diartikan sebagai “orang tua”, “paman”, atau “kakek”. Nama ini kemudian melekat pada masa-masa awal terbentuknya pemukiman tersebut karena banyaknya penghuni lansia.

Secara geografis, desa ini terletak berhadapan dengan pusat kota Sokcho, dipisahkan oleh perairan yang dapat diseberangi dengan jembatan atau menggunakan gaetbae, yaitu rakit atau platform yang bergerak di atas kabel dan ditarik dengan tenaga manusia. Awalnya gaetbae memiliki fungsi praktis sebagai moda penyeberangan bagi warga setempat, sebelum kemudian digunakan menjadi atraksi wisata.

Bagi generasi awal, kehidupan di Sokcho dibangun di bawah asumsi bahwa perang akan segera selesai. Konsekuensi dari anggapan tersebut dapat terlihat jelas pada bentuk hunian dan keputusan hidup warganya. Tempat tinggal awal dibangun dari material yang mudah ditemukan seperti kayu bekas, lembaran logam, kardus, dan bahan-bahan lainnya yang dianggap cukup untuk bertahan sementara. Kepadatan rumah pada periode awal juga mencerminkan sifat saling bergantung dari anggotanya dalam komunitas yang baru terbentuk dan menghadapi kondisi ekonomi terbatas.

Pesisir pantai di Desa Abai. Foto: Korea Tourism Organization

Setelah Perjanjian Gencatan Senjata 1953 disetujui dan perbatasan antara dua Korea semakin tertutup, kepulangan menjadi semakin tidak pasti. Namun, pola pikir “menetap sementara” dari para warganya tidak langsung berubah. Banyak keluarga tetap menjaga orientasi pada kampung halaman, yang memengaruhi cara mereka menamai tempat, membicarakan masa depan, serta menilai keputusan jangka panjang seperti investasi atau pembangunan rumah permanen. Di titik ini, Desa Abai berfungsi bukan hanya sebagai tempat tinggal saja, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertahankan memori kolektif tentang asal-usul mereka.

Perubahan generasi kemudian membentuk dinamika baru. Bagi generasi kedua dan ketiga yang tumbuh di Sokcho, “rumah” lebih sering dipahami sebagai tempat hidup sehari-hari. Sementara itu, sebagian generasi pertama tetap menyimpan orientasi emosional pada wilayah asal, meskipun ada pula yang akhirnya menganggap Sokcho sebagai tempat berakar karena jaringan sosial, pekerjaan, dan keluarga yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Para pendiri Desa Abai sering kali dikaitkan dengan daerah Hamgyeong, termasuk wilayah yang kerap disebut dalam narasi komunitas lain seperti Bukcheong. Karakter wilayah Hamgyeong dengan kondisi iklim yang relatif keras sering dijelaskan sebagai latar yang membentuk kebiasaan kerja dan cara bertahan hidup warga Abai. Dalam narasi budaya setempat, masyarakat Hamgyeong juga dikenal menempatkan pendidikan sebagai nilai penting dan memberikan ruang peran ekonomi yang menonjol bagi wanita dalam kehidupan sehari-hari.

Perahu gaetbae. Foto: VisitKorea

Dialek Hamgyeong menjadi penanda identitas yang ikut bertahan di perantauan. Istilah “abai” adalah salah satu contoh kosakata dialek yang tetap digunakan dan dikenal luas di Sokcho. Dalam kajian kebahasaan, dialek Hamgyeong sering menjadi sorotan karena ciri fonologis dan gramatikal yang unik membedakannya dari ragam bahasa Korea standar, termasuk pola aksen nada di beberapa wilayah, proses bunyi tertentu, serta penggunaan partikel negatif dan akhiran kalimat yang khas. Usaha untuk mempertahankan penggunaan dialek di komunitas pengungsi dapat dipahami sebagai praktik sosial untuk menjaga keterhubungan dengan daerah asal-usul.

Setibanya di Sokcho, banyak keluarga bertahan melalui pekerjaan yang tersedia di wilayah pesisir. Perikanan dan pekerjaan di sektor pengolahan hasil laut menjadi tumpuan, diikuti dengan pekerjaan fisik lainnya yang bergantung pada kondisi ekonomi lokal. Pola ini sejalan dengan kebutuhan bertahan hidup segera, terutama pada masa ketika hunian masih bersifat darurat dan akses sumber daya terbatas.

Di sisi lain, makanan menjadi medium penting untuk mempertahankan identitas. Desa Abai kini dikenal dengan Abai sundae dan squid sundae, serta mi dingin bergaya Hamheung dan menu lain yang diasosiasikan dengan tradisi kuliner Korea Utara. Kebiasaan penggunaan bumbu yang berbeda dan pembawaan metode memasak dari Hamgyeong menjadikan kuliner Abai memiliki ciri rasa yang dianggap “tidak sama” dari menu Korea Selatan pada umumnya. Dalam konteks wisata, kuliner ini menjadi pintu masuk paling mudah bagi pengunjung untuk mengenali sejarah komunitas Abai dan sedikit tentang Korea Utara.

Selain kuliner, warisan budaya tak benda juga hadir dalam bentuk seni pertunjukan rakyat yang dikaitkan dengan wilayah asal dari para pengungsi. Salah satu yang paling dikenal adalah Bukcheong Saja Noreum, tradisi permainan yang diasosiasikan dengan wilayah Bukcheong dan kemudian diakui sebagai warisan budaya takbenda di Korea Selatan. Dalam kerangka komunitas pengungsi, tradisi semacam ini tidak hanya berdiri sendiri sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai kegiatan yang mengikat jejaring sosial, membentuk organisasi pelestarian, dan memberi ruang pendidikan budaya bagi generasi berikutnya.

Kawasan pertokoan di Desa Abai. Foto: Korea Tourism Organization

Identitas kolektif Desa Abai juga terlihat dari cara bagaimana komunitas menata ingatan bersama melalui mural, pameran, serta aktivitas sosial. Sokcho Museum, misalnya, dikenal memiliki pameran yang merekonstruksi kehidupan pengungsi dan rumah-rumah yang mencerminkan kondisi periode awal, sehingga narasi sejarah tidak hanya bergantung pada ingatan lisan.

Perubahan citra Desa Abai semakin terlihat jelas setelah drama “Autumn in My Heart” yang tayang pada 2000 menjadikan Sokcho dan daerah sekitarnya sebagai lokasi syuting. Setelah periode itu, Desa Abai semakin sering masuk ke dalam rute kunjungan wisatawan yang tertarik pada lokasi syuting sekaligus bagi wisatawan yang ingin mencoba kuliner Abai.

Poster drama “Autumn in My Heart” (Fair use)

Pertumbuhan arus pengunjung memunculkan pergeseran fungsi ruang. Restoran, kafe, dan toko suvenir bertambah, sementara lanskap hunian lama berkurang seiring dengan adanya pembaruan bangunan dan kebutuhan komersial. Dalam banyak kawasan wisata, proses seperti ini membuat ruang tinggal, ruang usaha, dan ruang memori saling tumpang tindih. Di Desa Abai, hasilnya adalah identitas ganda yang berjalan bersamaan, yaitu sebagai situs sejarah pengungsian dan sebagai area konsumsi wisata berbasis pengalaman, foto, dan kuliner.

Desa Abai relatif mudah diakses dari pusat Sokcho. Pengunjung dapat berjalan melalui jembatan atau menyeberang menggunakan gaetbae. Karena area desa tidak terlalu besar, kunjungan biasanya dilakukan dengan berjalan kaki. Selain mengunjungi desa, wisatawan umumnya juga menggabungkan kunjungan ke pasar tradisional Sokcho, pantai Sokcho, dan Taman Nasional Seoraksan dalam satu hari.

Sokcho Tourist & Fishery Market. Foto: Korea Tourism Organization

Desa Abai memperlihatkan bagaimana perpindahan manusia akibat perang membentuk ruang hidup yang bertahan lintas generasi. Asal-usul dari Hamgyeong, pemertahanan dialek, pola kerja pesisir, kuliner khas, dan tradisi komunitas menyatu menjadi identitas yang dapat dibaca melalui tempat, makanan, dan praktik sosial.

Pada saat yang sama, Desa Abai juga menunjukkan bagaimana perhatian publik, termasuk melalui drama populer, dapat mengubah cara sebuah tempat dipahami dan digunakan. Di satu sisi, arus wisata menguatkan fungsi ekonomi kawasan. Sedangkan di sisi lain, ia membentuk ulang lanskap dan menata ulang prioritas pengalaman pengunjung. Kedua lapisan ini kini hadir bersamaan, dan pemaknaan Desa Abai terus bergerak mengikuti perubahan generasi serta dinamika kota Sokcho.