Sajik Arena, Busan. Foto: Fetx2002 (Wikipedia)

Di Korea Selatan, olahraga basket memiliki sejarah yang lebih panjang daripada anggapan banyak orang. Menurut arsip resmi federasi basket Korea, olahraga ini sudah diperkenalkan di Korea pada tahun 1903 melalui YMCA (Young Men’s Christian Association) oleh Philip L. Gillett. Dari sana, ekosistem basket di Korea tumbuh secara bertahap. Organisasi basket nasional didirikan pada 1931, Korea kemudian bergabung dengan federasi basket internasional pada 1947, dan profesionalisasi domestik dipercepat ketika liga profesional Korean Basketball League lahir pada tahun 1997.

Kekuatan Korea mulai terlihat jelas ketika kompetisi di tingkat Asia mulai digelar. Asian Basketball Confederation (ABC, sekarang dikenal dengan nama FIBA Asia) Championship digelar untuk pertama kalinya pada 1960, dan Korea secara konsisten menjadi kekuatan utama selama beberapa tahun pertama. Titik puncaknya datang ketika Korea berhasil mendapatkan medali emas FIBA Asia Cup tahun 1969 dan Asian Games 1970. Dua pencapaian menjadi penanda bahwa tim basket nasional Korea siap bersaing di tingkat internasional.

Di era emas tersebut, Shin Dong-pa menjadi pemain dengan performa yang paling luar biasa dalam sejarah turnamen. Arsip FIBA menunjukkan ia menutup turnamen dengan rata-rata 32,6 poin per pertandingan, angka tertinggi di kompetisi itu. FIBA juga menekankan betapa jauhnya jarak Shin dengan pencetak angka terbaik kedua, yang hanya memiliki rata-rata 19,7 poin per pertandingan.

Setelah masa itu, perjalanan Korea tidak selalu mulus. Namun, mereka masih belum sepenuhnya menghilang dari peta turnamen Asia. Gelombang kemenangan baru kembali muncul pada tahun 1980 hingga 2000-an. Korea kembali menjadi juara pada FIBA Asia Cup pada 1997 dan Asian Games pada tahun 1982 serta 2002.

Seo Jang-hoon (paling kiri) bersama dengan pemain lainnya dari LG Sakers, 2011. Foto: LG전자 (Flickr)

Dalam fase ini, publik juga mengenal figur-figur generasi baru, salah satunya adalah Seo Jang-hoon. Arsip FIBA pada turnamen 1994 dan 1998 menunjukkan bahwa Seo merupakan big man penting Korea, dengan kontribusi rebound dan angka yang stabil di panggung dunia. Ia menjadi simbol bahwa Korea tidak hanya hidup dari guard dan tembakan luar saja, tetapi juga pernah membangun identitas lewat center produktif yang berpengaruh.

Daya saing itu tidak berhenti di sana. Pada tahun 2007, Korea kembali menembus podium Asia setelah mengamankan perunggu di FIBA Asia Cup. Capaian ini penting sebagai penanda kesinambungan tim basket Korea. Meskipun tidak selalu meraih juara, Korea tetap berada dalam percakapan utama basket di kawasan Asia dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Memasuki era modern, identitas tim putra Korea bergerak ke arah yang semakin jelas, yaitu cepat, cair, aktif tanpa bola, dan bergantung pada shooting perimeter. Dalam evaluasi FIBA atas kualifikasi Asia menuju Piala Dunia 2019, Korea digambarkan sebagai tim yang hidup dari speed dan shooting. Taktik ini kemudian menjadi lebih berbahaya setelah kedatangan Ricardo Ratliffe, atau yang lebih dikenal dengan nama Ra Gun-ah. Perubahan ini penting karena memperlihatkan bahwa Korea tidak meniru basket negara lain sepenuhnya, mereka justru mengasah model permainan yang paling masuk akal untuk kondisi pemain yang mereka miliki.

Ricardo Ratliffe (Ra Gun-ah). Foto: OSEN SPORTS (Wikipedia)

Peran Ra Gun-ah menjadi sangat penting dalam fase itu. FIBA mencatat bahwa ia sudah mewakili Korea sejak 2018, dan profil resminya pada Piala Dunia 2019 menunjukkan ia memimpin tim dalam poin dan rebound dengan rata-rata 23,0 poin serta 12,8 rebound per pertandingan. Kehadiran pemain naturalisasi itu memberikan tim nasional Korea opsi ofensif yang selama ini tidak selalu mereka punya. Keberadaan Ra dapat dipandang sebagai jembatan untuk menjelaskan perubahan Korea dari tim yang sangat bergantung pada perimeter menjadi tim yang sedikit lebih seimbang, meskipun tetap bertumpu pada tempo dan spacing.

Meskipun tim nasional memiliki banyak pemain hebat, tantangan yang harus dihadapi oleh tim Korea di kancah global tetaplah ada. Arsip resmi FIBA menempatkan Korea di peringkat 26 pada Piala Dunia 2019 dengan rekor 1 menang dan 4 kalah. Hasil itu menunjukkan batas yang masih mereka hadapi ketika berhadapan dengan level dunia, yaitu kedalaman fisik, ukuran tubuh, dan konsistensi eksekusi di panggung tertinggi.

Narasi basket Korea juga tidak akan lengkap tanpa tim putri. Pencapaian global tim ini dimulai ketika Korea berhasil meraih medali emas pada FIBA Women’s Asia Cup pada 1965, atau di tahun pertama turnamen ini diselenggarakan. Tim wanita kemudian mendapatkan medali perak pada tahun 1967 dan 1979 di FIBA Asian Cup serta Asian Games 1974.

Kang Lee-seul, salah satu pemain basket wanita untuk tim nasional Korea tahun 2025. Foto: OSEN SPORTS (Wikipedia)

Sesudahnya, jejak kompetitif itu tetap terasa. Mereka kemudian berhasil mendapatkan medali perak di Olimpiade 1984 dan mencapai semifinal di Olimpiade Sydney tahun 2000. FIBA Women’s Asia Cup tetap menjadi kancah pertandingan di mana tim Korea tampil dengan gemilang. Dalam kejuaraan tersebut, Korea berhasil memenangkan total 12 medali emas, menunjukkan bahwa mereka setara dengan tim nasional pria.

Tentunya, olahraga basket di Korea tidak hanya berkutat di tingkat internasional saja. Selain tim nasional, fondasi domestik juga sangat penting. Korean Basketball League (KBL) berdiri pada 1997 dan memberikan tim basket dalam negeri Korea panggung profesional yang lebih stabil. Struktur ini penting bukan hanya untuk hiburan saja, tetapi juga untuk menjaga standar kompetisi, ritme pertandingan, dan kesiapan pemain lokal. Pada musim KBL 2024-25, tim Changwon LG Sakers berhasil menjadi pemenang setelah mengalahkan Seoul SK Knights.

Basket di Korea Selatan telah berkembang dari sekadar olahraga populer menjadi bagian penting dari budaya olahraga modern di negara tersebut. Dengan fondasi sejarah yang kuat, prestasi tim nasional yang terus berkembang, serta dukungan liga lokal, masa depan basket Korea tampak menjanjikan. Tantangan tentu masih ada, namun dengan konsistensi dan inovasi taktik, Korea Selatan berpotensi untuk semakin diperhitungkan di kancah internasional.