Dari penjualan hak cipta hingga promosi lintas negara, program baru LTI Korea menunjukkan bahwa perjalanan sastra ke pasar global tidak lagi dipandang sebagai proses yang berdiri sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, karya sastra Korea semakin sering menjadi topik dalam percakapan sastra dunia. Perhatian itu tidak hadir hanya karena satu judul buku atau satu penghargaan saja, melainkan karena terbentuknya ekosistem yang menghubungkan penulis, penerjemah, penerbit, agen hak cipta, festival, media, dan pembaca lintas bahasa.
Di tengah konteks itu, Literature Translation Institute of Korea atau LTI Korea meluncurkan program baru bernama Korean Literature Overseas Expansion Package Project pada tahun 2026. Program ini dirancang untuk mendukung distribusi karya sastra Korea ke luar negeri, mulai dari pembuatan kontrak hak cipta sampai promosi setelah terbit.
Program yang Melihat Ekspansi sebagai Satu Rangkaian
Hal yang menjadikan program ini mencolok adalah cara pandangnya. LTI Korea tidak memosisikan ekspansi sastra hanya sebagai urusan menerjemahkan naskah lalu menunggu respons pasar. Dalam pengumuman resminya, program ini disebut sebagai dukungan paket yang mencakup keseluruhan proses ekspansi karya ke luar negeri, yaitu mulai dari penyusunan kontrak hak cipta, penerjemahan, penerbitan, hingga pertukaran dan promosi di pasar tujuan. Sehingga, dukungan yang diberikan bukan hanya sekadar promosi setelah buku terbit saja, melainkan juga dipertahankan kehadirannya di luar Korea.
Pendekatan seperti ini menunjukkan perubahan penting dalam kebijakan budaya. Selama ini, banyak program dukungan sastra internasional berfokus hanya pada satu tahap tertentu, misalnya subsidi terjemahan atau bantuan penerbitan. Program paket ini mengambil pendekatan berbeda dengan menggabungkan beberapa tahap sekaligus. Dalam evaluasi resmi hasil seleksi 2026, LTI Korea bahkan menegaskan bahwa program ini pertama kali disiapkan untuk memperkuat kapasitas perusahaan swasta Korea dalam ekspansi ke luar negeri. Selain itu, LTI Korea juga berbeda dari program yang berlaku hanya satu kali, di mana program ini mendukung strategi yang berlangsung hingga dua tahun.
Siapa yang Bisa Mengikuti dan Apa yang Didukung
Program ini bukan ditujukan untuk semua pelaku industri buku secara umum. Peserta yang dapat mengajukan dukungan adalah perusahaan di Korea yang memiliki atau menerima mandat untuk mengelola penjualan hak cipta luar negeri untuk karya sastra Korea, serta mempunyai rekam jejak penjualan hak cipta sastra Korea dalam lima tahun terakhir. Konsorsium juga dimungkinkan, sehingga kolaborasi antara penerbit dan agen menjadi bagian dari desain program.
Karya yang dapat diajukan pun dibatasi. LTI Korea menyebut hanya novel, esai, drama, dan kritik sastra yang sudah terbit atau dipastikan akan terbit dalam bentuk buku tunggal di Korea yang dapat menerima dukungan. Sebaliknya, buku bergambar anak, graphic novel, webtoon, webnovel, dan genre lain di luar kategori tersebut tidak termasuk dalam skema ini.
Ada pula syarat bahwa penulis yang diajukan harus sudah memiliki sedikitnya dua buku tunggal yang telah terbit. Pembatasan ini menunjukkan bahwa program tersebut diarahkan pada pembangunan posisi penulis dan karya dalam medan sastra, bukan sekadar perluasan semua jenis konten Korea secara umum.
Dari Branding Penulis sampai Penerimaan Penghargaan
Salah satu bagian paling menarik dari program ini terletak pada jenis aktivitas yang didukung. LTI Korea membaginya ke dalam pendekatan yang berpusat pada penulis, berpusat pada karya, dan pendekatan gabungan. Untuk penulis, contohnya adalah pengiriman ke festival sastra, residensi, acara temu pembaca, tur buku, serta promosi melalui media lokal dan majalah sastra. Untuk karya, contohnya meliputi pembuatan panduan hak cipta, penerjemahan, partisipasi dalam pameran buku internasional, dan lainnya.
Di sini terlihat bahwa ekspansi sastra dipahami sebagai kombinasi dan kerja sama antara reputasi dan jaringan. Sebuah novel bisa diterjemahkan dengan baik, tetapi belum tentu memperoleh perhatian tanpa pertemuan dengan editor asing, media, festival, atau komunitas pembaca. Karenanya, LTI Korea menghubungkan program ini dengan kegiatan lain seperti pertemuan dengan pelaku penerbitan luar negeri dan mempromosikan karya di Frankfurt Book Fair. Di program terpisah, K-Literature Fellowship juga secara resmi mempertemukan penerbit dan agen internasional dengan komunitas penerbitan sastra Korea melalui pertemuan hak cipta dan program jejaring.
Mengapa Program Ini Muncul Sekarang
Waktu peluncuran program ini juga merupakan faktor yang penting. Dalam pengumuman resminya, LTI Korea menyatakan bahwa program ini digagas setelah Han Kang menerima penghargaan Nobel Sastra 2024. Sebelumnya, karya Han Kang yang berjudul The Vegetarian juga memenangkan International Booker Prize pada 2016. Kedua penghargaan ini menjadi bukti bahwa karya sastra Korea kini memiliki visibilitas yang lebih besar dalam sirkulasi global. Di sisi lain, perpustakaan digital LTI Korea mencatat bahwa terbitan sastra Korea telah diterjemahkan ke lebih dari 48 bahasa, sehingga kebutuhan akan strategi yang lebih terintegrasi menjadi langkah yang masuk akal.

LTI Korea juga sudah memperlihatkan bagaimana pendekatan regional dijalankan dalam praktiknya. Pada April 2026, lembaga tersebut mengadakan rangkaian acara bertajuk “Korean Literature: Love and Future’s Language” di Los Angeles bersama Korean Cultural Center Los Angeles dan ikut serta dalam LA Times Festival of Books. Program itu melibatkan penulis, forum diskusi, pameran buku, penjualan buku, dan kegiatan temu pembaca. Langkah ini selaras dengan logika program paket, yaitu mempertemukan karya, penulis, promosi, dan jaringan pasar dalam satu rangkaian kegiatan.
Apa Artinya bagi Pasar Bahasa Indonesia
Bagi pembaca Indonesia, program semacam ini juga relevan karena memperlihatkan bahwa proses untuk menghadirkan karya Korea terjemahan dalam bahasa Indonesia tidak dapat berdiri sendiri. Di basis data LTI Korea, misalnya, tercatat beberapa karya asal Korea yang telah terbit di Indonesia seperti Pasukan Buzzer karya Chang Kang-myoung pada 2021 dan Dunia Sisun karya Chung Serang pada 2025. Kehadiran judul-judul seperti ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia merupakan bagian dari peredaran sastra Korea yang lebih luas, dan program LTI berpotensi memperkuat hubungan antara hak cipta, penerjemahan, penerbitan, dan pembentukan pembaca di antara kedua negara.
Korean Literature Overseas Expansion Package Project pada dasarnya menunjukkan satu hal yang jelas, yaitu ekspansi sastra Korea ke luar negeri kini diperlakukan sebagai strategi jangka menengah, bukan lagi rangkaian tindakan yang terpisah. Meskipun negara memberikan dukungan melalui LTI Korea, penerbit dan agen yang bergerak di lapangan tetap menjadi pelaku utama. Struktur ini menempatkan karya sastra sebagai karya yang perlu dipasarkan, dipertemukan dengan institusi, dan dibangun reputasinya di ruang budaya negara lain.
Apabila program ini dapat berjalan sesuai arah yang dirancang, dampaknya tidak hanya terlihat pada bertambahnya jumlah buku terjemahan saja, tetapi juga pada terbentuknya jalur yang lebih stabil bagi penulis Korea untuk hadir di pasar dunia. Sehingga, label “package project” yang tersemat pada program ini juga dapat berfungsi sebagai penanda bahwa perjalanan sebuah karya menuju pembaca global memang selalu terdiri atas banyak tahap yang saling terkait.