Ilustrasi televisi. Foto: Glenn Carstens-Peters (Unsplash)

Televisi di Korea Selatan berkembang melalui beberapa jalur yang berjalan secara beriringan. Di satu sisi terdapat penyiaran terestrial gratis yang menjadi tempat rujukan informasi sekaligus hiburan bagi khalayak umum. Di sisi lain tersedia juga saluran televisi kabel, satelit, dan IPTV yang memperluas pilihan kanal hingga ratusan, termasuk kanal tematik yang sangat spesifik. Dalam satu dekade terakhir, distribusi digital melalui OTT dan model FAST turut mengubah cara bagaimana konten diproduksi, dibiayai, dan ditonton.

Korea Selatan memiliki empat kelompok utama penyiaran yang paling dikenal oleh publik melalui siaran terestrial gratis. KBS beroperasi sebagai lembaga penyiaran publik dengan beberapa kanal, termasuk kanal yang berfokus di segmen berita dan program layanan publik, serta kanal yang lebih menonjol di hiburan dan olahraga.

MBC mengisi posisi penyiaran hibrida antara program untuk publik dan komersial, dikenal luas lewat kombinasi acara berita, drama, dan variety show. SBS beroperasi sebagai jaringan komersial yang banyak mengisi slot hiburan dan drama. Terdapat juga EBS yang berfokus pada pendidikan dan program khusus anak, dengan kanal utama dan kanal tambahan.

MBC Sangam Center. Foto: 95016maphack (Wikipedia)

Keempat stasiun ini menjadi tulang punggung dari tontonan gratis yang dapat diakses melalui siaran terestrial digital. Di luar itu, terdapat stasiun atau afiliasi regional yang melayani wilayah tertentu, termasuk stasiun independen yang beroperasi di kawasan metropolitan. Pola ini membuat penonton dapat mengakses kanal utama secara luas, sambil tetap memiliki opsi kanal lokal untuk berita dan informasi dari daerah setempat.

Jika siaran terestrial menjadi fondasi, maka stasiun kabel, satelit, dan IPTV menjadi ruang ekspansi kanal. Paket berbayar biasanya menyajikan kanal dalam jumlah besar, mendekati atau melampaui 200 kanal, tergantung dari masing-masing penyedia. Kanal-kanal ini dibagi ke dalam kategori yang beragam, mulai dari berita, olahraga, film, musik, program anak, dokumenter, gaya hidup, dan lainnya.

Di kategori hiburan umum, ada pula kanal kabel berlisensi nasional yang sejak awal tahun 2010-an memperkuat kompetisinya dengan menyediakan jaringan terestrial. Stasiun tersebut menawarkan ragam program yang mirip dengan jaringan besar, termasuk berita, talk show, variety, dan drama. Pada saat yang sama, kanal tematik mulai berkembang pesat. Kanal berita 24 jam, kanal olahraga dengan hak siar liga tertentu, kanal film, serta kanal anak dan animasi menjadi bagian dari paket standar yang disediakan oleh banyak operator.

Ilustrasi saluran khusus olahraga. Foto: Amit Lahav (Unsplash)

Ekspansi kanal juga dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi yang terfragmentasi. Penonton tidak selalu mencari stasiun besar, melainkan genre yang spesifik. Dalam praktiknya, hal ini membuat operator berfokus untuk menyediakan kanal khusus, sementara produsen konten menyesuaikan format untuk audiens yang lebih tersegmentasi.

Selain televisi linear, distribusi konten kini berjalan kuat melalui sistem OTT. Platform domestik dan global beroperasi berdampingan, dengan kompetisi yang banyak ditentukan oleh katalog konten, hak siar, dan kemampuan investasi produksi. Di sisi lain, model FAST, yaitu siaran streaming gratis berbasis iklan dengan format seperti televisi linear, mulai menjadi kanal distribusi tambahan. Model ini memberikan opsi tontonan tanpa biaya langganan, sambil membuka ruang monetisasi iklan yang berbeda dari televisi konvensional.

Dalam konteks Korea Selatan, platform domestik menempatkan drama, variety, dan siaran olahraga sebagai penarik utama. Platform global cenderung untuk mengamankan hak eksklusif untuk judul tertentu, sekaligus berinvestasi langsung pada produksi. Pada titik ini, “televisi” tidak lagi identik dengan satu perangkat atau satu jalur distribusi, melainkan kumpulan format yang berpindah-pindah antara siaran linear, streaming on-demand, dan kanal FAST.

Ekosistem produksi konten televisi Korea Selatan tidak hanya bertumpu pada stasiun penyiaran saja. Banyak drama dan program hiburan diproduksi oleh perusahaan produksi khusus yang bekerja sama dengan jaringan terestrial, kanal kabel, ataupun platform OTT. Perusahaan-perusahaan ini mengelola pengembangan proyek, perekrutan kru, perencanaan syuting, hingga koordinasi pascaproduksi.

SBS Broadcast Center, Seoul. Foto: Teddy66 (Wikipedia)

Di tingkat industri, ada perusahaan produksi besar yang berfungsi seperti studio, mengelola portofolio beberapa judul sekaligus, dan membangun jejaring distribusi lintas platform. Ada pula konglomerasi media yang menggabungkan produksi, distribusi, dan bisnis hiburan lain dalam satu payung. Di sisi lain, jaringan terestrial tetap mempertahankan kapasitas produksi internal, terutama untuk berita, program studio harian, dan variety show yang membutuhkan ritme produksi berbeda dari produksi serial drama.

Perubahan penting yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya kolaborasi internasional. Kolaborasi ini bisa berbentuk co-production, pengembangan proyek bersama, atau pembelian perusahaan produksi di luar negeri. Tujuannya beragam, mulai dari memperluas pasar, memperkuat kepemilikan IP, hingga memperlancar akses ke talenta dan sistem distribusi global.

Salah satu ciri produksi serial drama Korea Selatan yang sering menjadi sorotan adalah pola produksi yang berjalan beriringan dengan masa tayang. Dalam pola ini, beberapa episode awal dapat disiapkan lebih dulu, lalu episode berikutnya terus diproduksi saat drama sudah tayang. Sehingga, proses penulisan, syuting, dan editing bergerak dengan tenggat yang rapat.

My Love from the Star, salah satu serial drama populer Korea

Pola tersebut memungkinkan penyesuaian kreatif saat penayangan serial masih berlangsung. Tim produksi dapat mengubah ritme cerita, porsi karakter, atau detail adegan berdasarkan respons penonton dan kebutuhan program. Di saat yang sama, pola ini menuntut koordinasi ketat antara penulis, sutradara, kru kamera, tim editing, dan pihak penyiar. Karena pascaproduksi berjalan berdekatan dengan jadwal tayang, manajemen waktu menjadi aspek operasional yang krusial.

Pembiayaan produksi konten berjalan melalui kombinasi dari berbagai sumber. Ada pendanaan dari stasiun atau platform sebagai pembeli hak tayang. Ada juga investasi dari perusahaan produksi sendiri, investor, dan skema pendanaan industri. Selain itu, ada pula dukungan pemerintah melalui program pendanaan yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas produksi dan daya saing global konten Korea.

Masuknya platform global juga mengubah struktur transaksi. Pada beberapa proyek, platform dapat membiayai produksi dengan imbalan hak distribusi tertentu, termasuk eksklusivitas di wilayah tertentu. Bagi perusahaan produksi, skema ini memberikan kepastian pendanaan dan akses pasar, tetapi juga memunculkan negosiasi baru terkait kepemilikan IP, pembagian pendapatan lanjutan, dan kontrol distribusi.

Ilustrasi pengambilan gambar. Foto: Sam McGhee (Unsplash)

Di luar model institusional, ada pula jalur pendanaan berbasis komunitas penggemar untuk proyek tertentu. Mekanismenya bervariasi, tetapi intinya pendanaan tersebut dapat membuka peluang bagi audiens untuk ikut mendukung produksi melalui cara yang lebih langsung.

Penyiaran di Korea Selatan berada dalam kerangka regulasi yang mengatur perizinan, standar konten, serta praktik pasar. Regulasi ini berlaku untuk jaringan terestrial dan juga memengaruhi ruang operasi penyiaran berbayar. Dalam praktiknya, penyiaran publik memiliki mekanisme tata kelola yang terkait dengan struktur penunjukan dan pengawasan, sementara penyiar komersial berada dalam pengaturan yang menekankan kepatuhan pada standar penyiaran dan persaingan pasar.

Bagi industri, regulasi tidak hanya berkaitan dengan pembatasan konten saja, tetapi juga soal struktur pasar, perizinan kanal, dan hubungan antara pemain domestik dengan platform global. Ketika OTT dan FAST berkembang, isu kebijakan sering bergeser dari sekadar “siaran” menjadi “distribusi konten” lintas perangkat dan lintas yurisdiksi.

Siaran televisi di Korea Selatan dapat dipahami sebagai dua lapisan yang saling mengunci. Lapisan pertama adalah peta kanal, dari siaran terestrial gratis yang menjadi fondasi konsumsi massal, hingga kabel dan IPTV yang memperluas pilihan kanal menjadi ratusan dan mendorong spesialisasi genre. Lapisan kedua adalah ekosistem produksi, tempat perusahaan produksi, jaringan penyiar, platform streaming, dan investor yang saling terhubung melalui negosiasi hak, jadwal produksi, dan strategi distribusi.

Di belakang layar terdapat juga sistem yang mengatur bagaimana proyek dikembangkan, dibiayai, diproduksi dengan tenggat ketat atau pre-produksi, lalu didistribusikan lewat jalur televisi linear, OTT, atau FAST. Selain bertambahnya ragam kanal, perubahan terbesar dalam beberapa tahun terakhir adalah bertambahnya jalur distribusi dan model bisnis yang membuat “televisi” menjadi ekosistem lintas platform.