Di jalanan Seoul, kombinasi warna busana yang didominasi oleh warna hitam, putih, dan abu-abu sering terlihat sebagai sesuatu yang biasa. Namun, alasan maraknya penggunaan warna monokrom di Korea juga dapat dipahami dari beberapa sudut pandang, mulai dari awal mula kebiasaan mengenakan pakaian putih, nilai sosial Konfusianisme, preferensi estetika yang dekat dengan praktik Seon (Zen Korea), sampai pertimbangan praktis pasar ritel dan bagaimana cara seseorang mengelola risiko sosial melalui pakaian.
Dominasi Warna Netral
Preferensi monokrom tidak hanya muncul sebagai kesan visual di ruang publik saja, tetapi juga terlihat jelas dalam data perilaku belanja. Laporan CJ Logistics Everyday Life Report tahun 2021 menyebutkan bahwa total pengiriman produk pakaian berwarna hitam mencapai 38%, putih 15%, dan abu-abu 9%. Jika digabungkan, item dengan palet warna netral mencapai 62% dari total produk fesyen yang dikirim. Angka ini menempatkan monokrom sebagai pilihan utama sebagian besark konsumen.
Perhatian dunia internasional terhadap warna yang netral pun turut meningkat. Dalam laporan Vogue tahun 2025, pencarian frasa “minimalist streetwear” disebut meningkat 340% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan gaya streetwear yang terinspirasi dari Korea menjadi pendorong penting dalam kenaikan ini. Fenomena ini menempatkan gaya monokrom Korea bukan hanya sebagai tren lokal, tetapi juga sebagai referensi visual yang beredar lintas negara.
Akar Sejarah: Warna sebagai Penanda Kelas
Sebelum warna hitam dan abu-abu menjadi identik dengan busana urban, kebiasaan mengenakan pakaian putih memiliki sejarah panjangnya sendiri. Istilah “white-clad people” yang terkait dengan sebutan 백의민족 (baekui minjok) dijelaskan sebagai hasil gabungan tiga faktor yang saling menguatkan, yaitu aturan sosial-politik, kondisi material, dan nilai simbolik.

Pada era Joseon, regulasi penggunaan warna ditentukan berdasarkan kelas sosial. Bangsawan lebih leluasa untuk mengenakan pakaian berwarna terang seperti merah, ungu, dan biru, sementara rakyat biasa pada praktiknya dibatasi pada putih atau warna pucat yang sering dikaitkan dengan warna tanah.
Beberapa catatan sejarah juga menyebutkan adanya larangan memakai putih yang berulang dari masa Goryeo hingga Joseon untuk golongan tertentu, menunjukkan upaya negara dalam mengendalikan cara seseorang berpakaian, termasuk mendorong pakaian berwarna untuk alasan politik dan ekonomi. Di sisi lain, rakyat tetap mempertahankan pakaian putih, sehingga bagi pengamat luar kumpulan rakyat biasa terlihat seperti “lautan hanbok putih” dan kemudian lahirlah istilah “white-clad people”.
Putih sebagai Praktik Sehari-hari dan Disiplin Kolektif
Faktor material turut memperkuat kebiasaan mengenakan pakaian putih. Untuk rakyat biasa, kain putih dari kapas atau rami yang minim pewarna disebut lebih umum dan relatif terjangkau, sementara pewarna berkualitas dan warna terang lebih dekat dengan kalangan atas. Beberapa pengamat sejarah berpendapat bahwa putih menjadi pilihan yang praktis dalam produksi rumahan, karena kain dapat ditenun di rumah, dicuci di sungai, lalu diputihkan dengan sinar matahari. Proses ini mudah untuk dilakukan secara berulang tanpa teknologi pewarna yang kompleks.
Menjaga pakaian putih tetap bersih juga digambarkan sebagai latihan disiplin kolektif. Pada waktu itu, para wanita sering mencuci dan memutihkan hanbok bersama di sungai, sehingga praktik perawatan pakaian menjadi bagian dari kebiasaan sosial yang ikut mempertahankan dominasi putih dalam keseharian.
Kolonialisme dan Konsolidasi Makna Nasional
Pada masa kolonial Jepang (1910–1945), pemerintah Jepang sempat menerbitkan larangan dan stigmatisasi terhadap hanbok putih. Namun, tindakan tersebut justru semakin memperkuat semangat masyarakat. Mengenakan pakaian putih, terutama hanbok, dipandang sebagai penegasan identitas Korea dan penolakan terhadap asimilasi paksa.

Istilah 백의민족 atau 백의동포 (baekui dongpo) dipopulerkan sejak tahun 1920-an sebagai slogan etno-nasionalis, yang membingkai hanbok putih sebagai dasar material identitas kolektif di tengah pendudukan pemerintah kolonial dan modernisasi. Dari sini, “white-clad people” dapat dipahami sebagai penegasan narasi atas kebiasaan yang telah lama ada, pernah dibatasi negara, dipertahankan masyarakat, lalu diberi muatan simbolik pada awal abad ke-20.
Fondasi Filosofis
Di luar sejarah sosial-politik, palet warna monokrom juga menjadi bagian dari preferensi estetika yang dipengaruhi oleh Seon (Zen Korea). Seon menekankan kesederhanaan, spontanitas, dan harmoni dengan alam. Konsep “gong” dalam Seon yang dimaknai sebagai kekosongan atau ruang kosong diterjemahkan ke bahasa visual sebagai pengurangan elemen yang tidak perlu, memberi ruang pada tekstur, proporsi, dan detail yang halus. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa monokrom tidak selalu diposisikan sebagai ketiadaan warna, melainkan sebagai cara untuk menekankan perhatian pada bentuk dan material.
Konsep Dansaekhwa
Konsep Dansaekhwa (단색화) juga menjadi salah satu konteks seni rupa yang sering dipakai untuk memahami estetika monokrom Korea. Meskipun istilah Dansaekhwa lebih utama digunakan dalam konteks seni rupa dan tidak ada bukti kuat bahwa konsep tersebut secara langsung memengaruhi fesyen monokrom, Dansaekhwa dipercaya memiliki resonansi dengan fenomena monokrom di Korea.

Keduanya memiliki beberapa kemiripan, seperti gagasan kesederhanaan, pengulangan sebagai praktik, serta fokus pada tekstur. Dalam lukisan, karya dengan konsep ini muncul sebagai kanvas nyaris satu warna dengan jejak kerja berulang dan penekanan pada permukaan.Sedangkan dalam fesyen, kemiripan itu terlihat pada layering netral dan permainan perbedaan kain, bahan, serta kontras gloss dan matte dalam spektrum hitam-putih-abu. Sehingga, Dansaekhwa dianggap dapat memberikan sudut pandang lain untuk membaca fenomena monokrom Korea, bukan bukti kausal yang spesifik terhadap tren tertentu.
Monokrom sebagai Strategi Sosial
Penggunaan pakaian berwarna netral juga dianggap sebagai salah satu cara untuk berbaur dengan masyarakat. Dalam survei terhadap 176 orang mahasiswa, 41,5% responden memilih warna netral karena tidak ingin menarik perhatian. Beberapa responden juga mengaitkan pilihan netral dengan kekhawatiran tentang komentar orang lain jika tampilan mereka dianggap terlalu mencolok.
Kolektivisme dan budaya “face” atau “shame” dianggap menjadi konteks budaya yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Di sisi lain, etiket dan hierarki turut menyediakan sudut pandang lain. Sejak kecil, orang belajar bahwa tampilan yang terlalu menonjol bisa dibaca sebagai tidak tepat konteks, terutama di lingkungan seperti sekolah dan kantor. Dalam kerangka ini, netral berfungsi sebagai strategi berisiko rendah, karena lebih kecil peluang untuk menarik perhatian dan menjadi bahan pembicaraan.
Alasan Pragmatis
Selain faktor sosial-psikologis, alasan pragmatis juga memengaruhi pilihan ini. Warna netral dipandang mudah dipadu-padankan, mengurangi risiko paduan styling yang tidak cocok, dan ekonomis karena dapat dipakai berulang kali dengan kombinasi berbeda. Dalam konteks ritel, disebut pula bahwa item dasar seperti kaus hitam dan putih termasuk yang paling sering dijual dan dipakai, sementara outerwear yang lebih mahal cenderung diproduksi dalam warna hitam karena praktis untuk perawatan dan kompatibel dengan banyak gaya.
Untuk menghindari kesan visual yang datar, pendekatan styling yang menekankan variasi di dalam palet sempit sering diterapkan. Variasi tersebut dapat dicapai dengan mencampur beberapa tingkat gelap-terang dalam spektrum yang sama, mengombinasikan kain dengan bahan berbeda seperti katun, wol, sutra, dan denim untuk menghasilkan perbedaan permukaan, serta menyeimbangkan elemen formal dan kasual. Dengan pendekatan ini, monokrom diposisikan sebagai struktur dasar yang memberi ruang pada permainan tekstur dan layering.
Brand, Ritel, dan Lingkar Penguatan Supply-Demand
Dominasi produk dengan palet netral tidak dapat dijelaskan hanya oleh demand ataupun supply saja. Ada kecenderungan historis dan psikologis yang membuat konsumen condong ke netral, sementara strategi brand dan ritel memperkuat kecenderungan tersebut sampai terasa seperti norma visual.
Di satu sisi, ada konsumen yang memilih netral karena “nyaman” dan menggunakan warna terang untuk momen tertentu. Ini menunjukkan preferensi netral dapat berdiri sebagai pilihan personal. Di sisi lain, beberapa survei mencatat bahwa sebagian responden mengatakan mereka jarang membeli item dengan warna lain karena terbatasnya pilihan berwarna.
Dari sini terbentuk lingkar penguatan, di mana konsumen mencari item netral, retailer mengisi rak dengan item netral untuk mengurangi risiko stok tidak terjual, lalu konsumen semakin jarang menemui opsi berwarna dan makin terbiasa dengan palet netral. Pada tingkat makro, netral diposisikan sebagai pilihan komersial yang aman karena mudah dialokasikan lintas musim dan segmen.
“Demure” sebagai Penanda Gaya Tenang
Dalam konteks K-pop, palet monokrom menjadi sebuah alat untuk membangun kesatuan visual dan identitas kolektif, terutama ketika koreografi menekankan sinkronisasi. Monokrom membantu kelompok tampil sebagai satu kesatuan visual, bukan kumpulan individu dengan warna yang saling bertabrakan.
Selain itu, estetika “Demure” yang populer dalam beberapa tahun terakhir juga diasosiasikan dengan gaya monokrom yang tenang dan sederhana, seperti dicontohkan melalui pilihan gaya seorang anggota BLACKPINK, Rosé. Pada ranah fesyen yang lebih luas, tren “Demure” mendapatkan momentum pada musim Fall/Winter 2025 di Korea, dengan penekanan pada gaya yang tidak mencolok dan lebih sederhana. Beberapa desainer menonjolkan pola cek simpel dan gaya klasik sebagai salah satu tanda arah yang selaras dengan preferensi terhadap kesederhanaan.
Konsep dan penggunaan palet monokrom di Korea merupakan hasil dari pertemuan sejarah, nilai sosial, estetika filosofis, dan rasionalitas pasar. Jejak ““white-clad people”” memberikan konteks bagaimana warna pernah menjadi penanda kelas, kebiasaan material, dan simbol identitas pada masa kolonial. Di saat yang sama, kerangka Seon dan konsep “gong” memberikan makna monokrom sebagai pilihan visual yang menekankan ruang, bentuk, dan tekstur.
Pada level sosial-kontemporer, warna netral berfungsi sebagai strategi untuk menjaga kesesuaian norma, meminimalkan risiko sosial, dan tetap efisien secara praktis. Ketika preferensi tersebut bertemu dengan strategi brand dan ritel, terbentuk pola yang saling menguatkan, sehingga palet netral hadir sebagai bahasa visual yang stabil. Dalam konteks budaya populer dan arah musim 2025, monokrom juga tampil sebagai perangkat gaya yang menandai ketenangan dan kesederhanaan, sekaligus mudah diterapkan di berbagai ruang sosial.