Pengalaman Berwisata ke Korea Saat Pandemi COVID-19

on in Travel

Di penghujung tahun 2019, saya mendapatkan tiket pulang-pergi dari Indonesia ke Korea. Setelah mengecek kalender dan tugas yang perlu dikerjakan, saya memutuskan untuk pergi pada awal Februari 2020. Singkat cerita, tahun 2020 tidak seindah yang dibayangkan karena COVID-19 muncul. Sebelumnya saya telah beberapa kali mengunjungi Korea dan saya menyadari perubahan yang diterapkan oleh pemerintah dan lembaga di Korea kepada warga dan juga turis agar tetap menjaga protokol kesehatan serta kebersihan selama pandemi COVID-19.

Linimasa Perjalanan

Saya ingin menjelaskan terlebih dahulu tentang lini waktu dan situasi COVID-19 pada saat saya berwisata ke Korea. Saya berangkat dari Jakarta pada 4 Februari 2020, dan kembali melalui Incheon seminggu kemudian, pada tanggal 11 Februari.

Di hari keberangkatan terdapat enam belas kasus positif COVID-19 di Korea, sementara di Indonesia masih menjadi negara negatif COVID-19. Sehari setelahnya, saat sampai di Seoul, terdapat penambahan dua kasus, sehingga total terdapat delapan belas kasus positif di seluruh Korea Selatan. Dari total tersebut, tujuh kasus ditemukan di Seoul. Bahkan setelah saya mengakhiri perjalanan pada 11 Februari, situasi COVID-19 di Korea relatif terkendali dengan total 28 kasus positif di seluruh Korea dan 10 kasus di Seoul. Hingga sampai di tanah air, Indonesia pun tak memiliki kasus positif. Dengan demikian protokol kesehatan dan juga regulasi bepergian bisa saja berbeda dengan yang sekarang, mengingat situasi COVID-19 yang terus berkembang.

Proses Imigrasi

Saya mendarat di bandara Incheon pada hari Rabu, 5 Februari 2020. Saat berjalan menuju ke bagian pengecekan imigrasi, saya melihat sejumlah kamera thermal telah terpasang. Terdapat pula pengumuman tentang perubahan proses pengecekan bagian imigrasi bagi orang-orang yang datang dari negara tertentu. Apabila terdapat orang yang datang dari negara dengan kasus positif COVID-19, maka mereka akan diarahkan menuju terminal khusus.

Tindakan pencegahan dilakukan secara serius, diantaranya dengan adanya kuesioner tentang kesehatan pribadi dan jejak perjalanan. Apabila ditemukan seseorang yang memiliki demam dan dinilai perlu pemeriksaan lebih lanjut, maka orang tersebut akan dikarantina.

Hal lain yang menonjol adalah peningkatan jumlah staf kebersihan yang menyemprotkan disinfektan dan membersihkan pegangan, gagang pintu, wastafel, dan dimanapun kontak tangan bisa terjadi. Terlihat usaha ekstra bandara Incheon agar tetap higienis.

Bepergian Dengan Kendaraan Umum

Setelah keluar dari bandara, saya naik kereta AREX menuju penginapan di area Myeongdong dengan mengenakan masker. Saya merasa lega melihat semua orang juga mengenakan masker. Mulai dari staf, turis, penduduk lokal, hingga anak-anak. Pada saat itu belum diterapkan sistem pembelian masker menurut tahun lahir, sehingga masker masih bisa bebas dibeli di apotek, walaupun kita harus tetap update dengan apotek mana saja yang masih memiliki stok masker.

Tingginya tingkat penggunaan masker dipengaruhi oleh instruksi pencegahan pemerintah Korea yang jelas kepada warganya. Instruksi pencegahan COVID-19 dapat dengan mudah dijumpai. Poster-poster ditempel di stasiun serta halte bus, spanduk besar di jalan, dan juga pada reklame elektronik di gedung pencakar langit.  Selain poster, pemerintah juga mengirimkan pesan darurat agar masyarakat tetap update dengan situasi COVID-19.

Selama berada di Seoul, saya mengunjungi tempat wisata menggunakan kereta dan juga bus. Di setiap stasiun terdapat beberapa titik dimana orang-orang dapat mencuci tangan mereka. Biasanya hand sanitizer tersedia di dekat gerbang. Selain itu, sebelum diterapkannya sistem pendistribusian masker, banyak dari bus kota Seoul yang membagikan masker gratis bagi penumpang yang tidak mengenakan masker. Hand sanitizer pun disiapkan di setiap pintu bus.

Pengalaman Wisata di Korea

Sebagian besar objek wisata tetap buka. Lima istana di Seoul, Museum Nasional Korea, desa Hanok Bukchon, terbuka untuk pengunjung. Bus wisata kota Seoul tetap beroperasi, walaupun jumlah penumpang berkurang signifikan.

Meskipun jam buka dari toko, mal, restoran, dan objek wisata tidak mengalami banyak perubahan, suasananya hening dan sepi, tidak seperti biasanya. Suatu hari saya makan siang di salah satu restoran lokal di Myeongdong. Salah satu pramusaji berkata bahwa mereka rugi karena berkurangnya jumlah pelanggan. Hal tersebut tak dapat dielakkan mengingat berkurangnya jumlah wisatawan di tengah pandemi.

Pariwisata dan COVID-19

Saat ini berwisata mungkin menjadi suatu hal yang mustahil bagi warga dari negara dengan kasus positif COVID-19 yang cukup tinggi. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa kita bisa saja tertular atau menyebarkan COVID-19 bila kita tidak menahan diri untuk keluar rumah.

Ditambah lagi, beberapa negara telah memperketat syarat visa bepergian atau menutup akses kepada turis. Namun demikian, kita semua paham bahwa semakin kita berhati-hati dan peduli terhadap panduan kesehatan selama pandemi, semakin cepat pula kita dapat melewati masa ini.

Saat ini Indonesia tengah berusaha untuk menekan jumlah kasus positif. Kenakan masker bila harus bepergian, seringlah cuci tangan, dan hindari kerumunan. Sekarang adalah waktu yang paling mudah untuk menjadi seorang pahlawan. Sebisa mungkin, hindari keluar rumah apabila tidak terlalu diperlukan. Stay at home.

All-in-one Info Korea 👍
IG : @belajarkorea@saungkorea
Facebook : Saung Korea
Twitter : @saungkorea
YouTube : Saung Korea
LINE : @saungkorea