Musokchum: Tarian Syaman Korea

on in Culture
Kim Myo Seon memperagakan Seungmu. Foto: Lychi (Wikipedia)

Musokchum, atau tarian syaman, merupakan tarian yang berakar kuat dalam praktik syamanisme Korea di masa lalu. Selain menjadi hiburan, musokchum juga berfungsi sebagai jembatan antara alam fisik dan spiritual, sekaligus menjadi jendela untuk menjelajahi budaya Korea secara mendalam. Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang sejarah dan makna dari musokchum.

Syamanisme, yang dikenal sebagai “Muism” di Korea, berpusat pada pemujaan roh dan penghormatan pada leluhur. Sedangkan syaman, atau “mudang”, bertindak sebagai perantara yang memfasilitasi komunikasi antara dunia manusia dengan dunia spiritual. Musokchum merupakan salah satu praktik dari ritual syamanisme, dilakukan untuk memanggil roh, memohon berkah, ataupun untuk mengusir roh jahat.

Referensi awal tentang Musokchum muncul selama periode Tiga Kerajaan (57 SM – 668 M), di mana tarian ini sering mengisi acara istana kerajaan dan upacara desa. Seiring berjalannya waktu, tarian ini berkembang dan menggabungkan elemen dari berbagai kepercayaan seperti Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme. Ini menjadi cerminan bagaimana kekayaan budaya Korea juga dipengaruhi oleh peradaban dan kepercayaan yang beragam.

Signifikansi musokchum dalam budaya Korea berakar dari dimensi spiritual dan komunalnya. Tarian ini memiliki berbagai elemen dari ritual syamanisme, termasuk “gut” (menenangkan roh), “je” (ritual leluhur), dan “byeolsingut” (ritual desa untuk kemakmuran dan perlindungan). Setiap upacara memiliki gerakan tarian, musik, dan kostum yang berbeda, mencerminkan tujuan dan sifat dari upacara tersebut.

Tujuan musokchum adalah untuk membangun koneksi antara alam fisik dan spiritual. Syaman melakukan tarian ini untuk berkomunikasi dengan roh, mencari bimbingan, berkah, dan perlindungan. Gerakan-gerakannya diyakini memiliki kekuatan untuk memanggil roh, sementara pola ritmis musiknya menciptakan suasana yang kondusif untuk komunikasi spiritual.

Di luar makna spiritualnya, musokchum juga menumbuhkan rasa kebersamaan dalam komunitas. Ritual ini sering melibatkan seluruh desa, dengan penduduk berkumpul untuk menyaksikan tarian dan memanjatkan doa. Pengalaman bersama ini memperkuat ikatan komunitas dan memperkuat rasa warisan budaya bersama.

Musokchum adalah bentuk tarian yang dibuat dengan cermat, menggabungkan berbagai elemen untuk menciptakan pengalaman yang holistik. Musik, kostum, dan properti semuanya memainkan peran penting dalam meningkatkan dampak tarian.

Musik yang mengiringi Musokchum biasanya dimainkan dengan instrumen tradisional Korea seperti “janggu” (drum berbentuk jam pasir), “buk” (drum barel), “piri” (seruling bambu dua buluh), dan “haegeum” (biola dua senar). Musiknya dicirikan oleh ritme yang rumit dan melodi yang kaya, melengkapi gerakan tarian dan mendorong syaman untuk masuk dalam keadaan trance.

Kostum yang dikenakan oleh syaman selama ritual musokchum sering kali rumit dan simbolis. Mereka sering menampilkan jubah berwarna cerah, hiasan kepala yang dihiasi bulu dan manik-manik, dan aksesoris seperti lonceng dan kipas. Setiap elemen memiliki makna khusus, mewakili dewa, roh, dan kekuatan alam. Warna-warna cerah dan desain rumit menambah kekuatan visual tarian.

Properti seperti kipas, pedang, dan benda ritual lainnya sering digunakan dalam musokchum. Properti ini tidak hanya menjadi hiasan saja, tetapi mereka juga memiliki tujuan khusus dalam tarian. Kipas, misalnya, menciptakan gerakan anggun dan melambangkan angin, sementara pedang mewakili kekuatan syaman untuk menangkal roh jahat. Penggunaan properti menambah dimensi dinamis pada tarian, memperkaya makna dari musokchum.

Tarian musokchum memiliki gerakan yang bersifat mengalir dan ekspresif, sering meniru elemen alam seperti angin, air, ataupun api. Gerakan-gerakan ini mengandung berbagai macam emosi dan dapat menyampaikan pesan, mulai dari memanggil roh hingga mengungkapkan rasa terima kasih dan penghormatan. Beberapa gerakan kunci meliputi:

  • Cheoyongmu: Sebuah tarian yang dilakukan untuk mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Ini melibatkan gerakan yang dinamis dan kuat, melambangkan kekuatan dan tekad dari syaman.
  • Seungmu: Sebuah tarian yang dilakukan untuk memohon keberkahan dan perlindungan dari roh. Ini dicirikan oleh gerakan yang anggun dan mengalir, yang sering meniru elemen alam seperti angin, air, dan bunga. Tarian ini biasanya dilakukan dengan tempo yang lambat.

Meskipun Korea mengalami modernisasi dan globalisasi yang pesat, musokchum tetap menjadi bagian penting dari warisan budayanya. Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan dan mempromosikan bentuk tarian tradisional ini.

Salah satu upaya dari pelestariannya adalah dengan adaptasi dalam pertunjukan kontemporer. Koreografer dan seniman telah memasukkan elemen musokchum ke dalam pertunjukan tari modern, menciptakan karya inovatif yang menarik bagi audiens yang lebih luas.

Musokchum adalah ekspresi identitas spiritual Korea. Gerakan, kostum, dan musik memberikan pesan yang mendalam. Sebagai tradisi yang hidup, musokchum terus menginspirasi dan menghubungkan orang-orang, baik di dalam Korea maupun di luar negeri. Melalui upaya pelestarian yang berkelanjutan dan adaptasi modern, tarian syaman kuno ini tetap menjadi bukti kekuatan budaya dan warisan yang abadi.