Ini Cara Korea Selatan Hadapi COVID-19

on in Berita

Berikut adalah sejumlah cara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, paramedis, seniman, pemuda, hingga masyarakat umum Korea Selatan dalam menghadapi wabah COVID-19.

Pemerintah Pusat

Pemerintah merilis kepada publik data daerah serta tempat yang pernah dikunjungi pasien positif COVID-19. Pemerintah pun mengontrol distribusi masker kepada publik. Tak hanya itu, pada 3 Maret 2020, pemerintah Korea Selatan mengamandemen UU Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Infeksius. Disebutkan bahwa pasien suspect yang menolak untuk dites dapat didenda hingga tiga juta won (±36,8 juta rupiah). Pasien yang suspect juga dapat dihukum hingga satu tahun penjara atau denda sepuluh juta won (±122,6 juta rupiah) bila melarikan diri dari karantina.

Pemerintah Daerah

Mulai 11 Maret hingga 30 Agustus 2020 , pemerintah kota Seoul menyediakan 1.700 lapangan kerja bagi orang yang bekerja di sektor terdampak negatif COVID-19. Selain itu lembaga riset pemerintah Seoul, Seoul Institute of Technology (SIT), mengadakan kompetisi inovasi masker untuk mengatasi kelangkaan masker.

Pemerintah Daerah

Salah satu perusahaan bioteknologi molekuler di Korea, Seegene, telah mulai membuat alat tes COVID-19 sebelum kasus pertama ditemukan. Versi pertama alat tes ini selesai dibuat awal Februari 2020 dan disetujui oleh Korea Centers for Disease Control & Prevention pada 12 Januari 2020. Kini Korea Selatan telah melakukan tes pada 274.000 orang (per 18 Maret 2020).

Di sektor lain, berkurangnya jumlah pengunjung di tengah wabah COVID-19 berakibat pada turunnya pendapatan pengusaha kecil. Sejumlah pengusaha properti menurunkan biaya sewa toko untuk tenant.

Paramedis

Masyarakat memberikan kontribusi di beragam bidang. Perawat dari berbagai daerah datang ke Daegu, episentrum penularan COVID-19 di Korea, untuk membantu paramedis di garis terdepan perawatan pasien.

Seniman

Seniman gukak (musik tradisional Korea) dari National Gugak Center dan mahasiswa seni Korea National University of Arts mempublikasikan video musik serta penampilan setiap harinya sebagai bentuk dukungan kepada orang-orang yang melakukan swakarantina.

Pemuda dan Masyarakat Umum

Para pemuda di provinsi Gyeonggi menjadi relawan untuk membagikan makanan kepada orang-orang yang tidak bisa pergi bekerja karena  swakarantina. Masyarakat umum mengurangi frekuensi aktivitas di luar rumah dan menghindari keramaian sebagai respon dari imbauan social distancing dari pemerintah.